Cerpen; Akhir Sebuah Janji

Ini tahun ke tiga kembali aku duduk mematung di stasiun ini lebih lama, berharap tahun ini aku akan menemukan jawaban keberadaan mu. Kamu yang menghilang tanpa jejak, seketika tak berkabar sesaat setelah kita berjanji akan bertemu lagi saat aku pulang kantor.

Tiga tahun lalu, aku menunggumu sampai jam sepuluh malam di sini. Kamu yang tak pernah muncul lagi sejak hari itu. Kenapa? Ada apa gerangan? Apa yang membuatmu merubah pikiran untuk bertemu dengan ku? Kamu takut? Kamu malu atau apa?

Padahal aku berharap hari itu jadi kenyataan, aku bisa merasakan perasaanmu sebulan lebih hanya untuk memberanikan diri menyapaku. Aku ingat momen pertama kali aku melihatmu, saat kita berdesakkan di gerbong commuter sore itu. Aku yang tersadar karena gelombang emosi di antara kita bertemu, karena kamu laki-laki dengan postur sesuai dengan tipe aku banget, tak bisa ku pungkiri ada sesuatu dalam hatiku. 

Namun hati kecil ku meyakini keberanian kamu  hilang, kamu tak mampu tersenyum dan ciut nyali untuk menyapa, aku yakin dalam hati mu berkata "...ini commuter men! Hati-hati bertingkah laku, salah-salah lo malah di curigain macam-macam.."

Aku tak pernah memilih untuk naik gerbong mana setiap kali naik commuter, ku bebaskan kakiku memilih gerbong mana saja yang paling pas dengan posisiku saat berdiri di belakang garis kuning. Yang terpenting bukan gerbong di awal dan akhir rangkaian yang khusus wanita itu. Gerbong yang tak pernah jadi pilihanku, Entah mengapa berada di gerbong itu aku merasa berada di dunia yang..., entahlah! Aku tak ingin membahasnya.

Bukan keinginanku jika akhirnya bertemu di gerbong yang sama dengan mu, bukan sekali dua kali, tapi dalam bulan itu aku menghitung ini sudah yang ke enam kalinya, empat kali di pagi hari dan dua kali di sore hari.

Kemungkinan untuk bertemu beberapa kali dalam satu gerbong sangat kecil sekali di commuter. Apalagi jika tidak saling mengenal satu sama lain, semua orang saling melupakan,  belum lagi jika tempat asal dan tujuan berbeda. Bertemu dengan orang yang sama dalam beberapa kali  perjalanan tentu membuat aku merasa lucu. Meski tidak berturut-turut, kami sering sekali berada di gerbong yang sama. 

Aku yakin Tuhan yang memilihkan dan mempertemukan gerbong untuk kita waktu itu, meski akhirnya kita akan berpisah di stasiun Tebet saat kamu turun, sementara aku melanjutkan perjalanan menuju kantor ku di daerah Sudirman, atau saat aku pulang Turun di Stasiun Depok dan kamu (mungkin) turun di Bogor

Ini salahku yang terlalu paranoid, sejak dulu aku tak mengizinkan diri terlalu beramah tamah dengan sembarang orang apalagi  di commuter line, kecurigaan ku mengalah kan gelombang energi kita yang sebenarnya sama. Aku selalu memasang badan acuh tak acuh, meski aku tahu kamu ingin menyapaku. 

Commuter line tempat ratusan ribu manusia semua tipe bertemu setiap harinya. Di tengah himpitan sesama penumpang apalagi di jam-jam sibuk seperti ini. Tidak perlu berpikir macam-macam adalah pilihan yang terbaik, masih bisa mendapatkan handle tangan saja sudah bagus. Bahkan kamu yang berangkat dari Bogor saja tak pernah kulihat sekalipun mendapatkan kursi untuk duduk.

Setelah kali ke enam kita berada di gerbong yang sama bulan itu akhirnya kamu beranikan diri untuk menyapaku, Di tengah desak-desakan itu dengan suara rendah dan terasa sangat sopan sekali "..turun dimana mbak...?" aku yang "akhirnya" merasa sedikit tidak asing lagi dan terpengaruh dengan kesopanan mu saat bertanya, tanpa berpikir panjang menjawab "...Sudirman..mas..!" Setelah pertanyaan itu, mungkin terpengaruh suasana commuter yang crowded atau suasana hatimu yang bingung mau bertanya apa lagi? tak ada kalimat lain yang terucap dari mulutmu, sementara akupun tak berusaha untuk balik bertanya.

Namun tak di nyana sesaat setelah tiba di stasiun Cawang "....Mohon maaf sebelumnya mbak, dengan perkataan ini semoga tidak ada yang marah yah...! Saya ingin sekali kenalan dengan mbak tapi tidak di suasana seperti ini, boleh kapan-kapan kalau ada waktu kita bisa ngobrol!? Nada suaranya bergetar terdengar gugup. 

Aku tertegun dan bergumam dalam hati"...what, maksudnya ini ngajak janjian gitu!? Koq bisa!! gila apa! harus jawab apa ini..?" 

Meski ini cowok memang tipe aku, aku nggak mau terkesan gampangan juga dong! Kewaspadaan juga harus di utamakan, meskipun sebenarnya dalam hati ada rasa geer. Akupun diam mikir sambil pasang wajah nggak jelas.

Dalam hati aku berpikir, sebenarnya melihat pembawaan cowok seperti ini, aku sih yakin ini cowok sepertinya baik-baik dan nggak punya niat jelek atau mau iseng, apa salahnya ku iyakan ya? iyakan saja dulu atau ...?! Tiba-tiba dia memotong pemikiran ku

''....maaf kalau ada yang marah nggak usah di pikirin yaah!? jadi nggak usah di jawab, nggak apa-apa koq kalau nggak mau, Sebentar lagi saya turun koq, ujarnya dengan suara yang merendah. "...Saya kerja di situ, di daerah Kota Casablanca..." katanya


Tak sadar entah mengapa aku spontan menjawab "...hmm..nggak koq..nggak ada yang marah.." boleh aja sih cuma ngobrol-ngobrol aja kan..?!" Kapan?! Tanyaku, malah bernada iseng.

Kalau hari ini bagaimana? Kamu pulang jam berapa, saya biasa pulang jam lima. Kita bertemu di stasiun Depok saja bagaimana!? Supaya kamu lebih mudah, nanti kita cari tempat ngobrol di sekitar sana aja. Terdengar suaranya sudah mulai terdengar percaya diri dan bersemangat.

Hmmm...hari ini yaa...aku pulang agak sore, mungkin akan lebih dari jam lima, ada pekerjaan yang menunggu dead line besok, gimana? Kamu mau menunggu lebih lama. 

"...Ohh...nggak masalah nanti saya tunggu mbaknya di Stasiun Depok.." Begitu katanya sambil mengeluarkan sobekkan kertas kecil berisi no handphone yang sepertinya sudah di siapkan, tertera juga sebuah nama di sana "...Nama saya Irwan..mbak" Selorohnya, Sesaat ketika mataku tertuju pada nama yang tertera di atas kertas itu.

Commuter sebentar lagi akan tiba di Stasiun Tebet. Aku tak sempat lagi membalas memberikan nomor telepon apalagi kartu nama. Namun aku sempat memberi tahu namaku, sesaat sebelum commuter tiba di Stasiun Tebet, Irwan pun turun sambil tersenyum ke arahku.

Sore hari menjelang malam, saat aku tiba di Stasiun Depok pukul setengah tujuh malam.  Tak ada sedikitpun bayangan Irwan di sana, yang masih ku ingat jelas tadi pagi mengajak bertemu di sini. Sampai lepas pukul sepuluh ku tunggu tapi tak pernah muncul. Aku mencoba beberapa kali menghubungi nomor handphone yang di berikannya  tapi yang terdengar selalu nada sibuk

Hingga akhirnya setelah hari itu tak ada lagi hari-hari aku bertemu dengannya lagi. Aku ingin sekali mendengar penjelasannya mengapa ia tak jadi muncul. Aku marah dan gondok dan merasa sangat bodoh. Berani-beraninya ini cowok baru kenal sudah mempermainkan begini rupa. Aku juga kesal  ternyata intuisiku salah, cowok ini nggak sebaik yang ku pikirkan.

Sejak hari itu 26 Januari 2014. Tak pernah lagi aku bertemu dengannya walau hanya sekali..

Namun entah mengapa ada perasaan aneh yang sulit di jelaskan rasa penasaran yang seakan membuatku tidak bisa marah, aku malah merindukan Irwan yang tak sempat ku kenal lebih lanjut itu. Apalagi selama tiga tahun ini aku merasa sulit menjalin hubungan dengan laki-laki, tak ada satupun yang berniat serius denganku, umurku setahun lagi masuk kepala tiga meski sedikit resah, namun aku memilih cuek dengan pertanyaan ibuku, soal pacar.

Satu hal, entah mengapa setiap tahun sejak hari itu, bertepatan dengan tanggal janjian kami. Aku ingin lebih lama berada di stasiun ini seakan berharap dia sedang menunggu aku di suatu sudut stasiun.

Hari sudah menjelang pukul sepuluh malam, ku putuskan untuk keluar stasiun men tap out kartu langganan commuter ku.

Sesaat setelah keluar stasiun. Tiba-tiba sebuah tepukkan mengagetkan ku, seorang perempuan muda bersama seorang laki-laki terlihat seperti pasangan suami isteri menyapaku.

"Mba Lina yaa..? Tanya nya
"Iya betul,  mbak siapa ya koq kenal saya..?
"Saya Indri, adik Irwan..."

Seketika dadaku berdesir..

"..Iya..mba saya sudah cari mbak kemana-mana.."Yaa.. Allah Akhirnya Tuhan mempertemukan kita hari ini.
"...atas nama Irwan saya ingin meminta maaf. Dia tak bisa memenuhi janjinya untuk bertemu dengan mbak..hari itu?!

Nggak apa-apa mbak, saya sudah melupakannya..! Kataku

"..Tapi Irwan nggak mbak..!"

Hari itu tepat hari ini, tiga tahun lalu Irwan mengalami kecelakaan, bus kota yang di naikinya untuk ke stasiun Tebet mengalami kecelakaan, Irwan mengalami luka dalam yang serius yang merusak hampir seluruh jaringan otaknya. Irwan saat ini sedang koma, iya sudah tiga tahun ini koma...

Dia hidup bergantung mesin. Sebenarnya dokter sudah menyarankan untuk melepas semua peralatan yang menempel di tubuhnya, tapi ibunya menolak, ibu Irwan  terngiang kalimat terakhir irwan sebelum ia koma "..janji, Lina dan agenda.." Itu katanya 

Ibu irwan mendapati sebuah agenda yang ternyata masih ada dalam tas Irwan, sementara barang-barang lainya raib entah kemana. Selembar halaman berisi fotoku dan tanggal janjian tertera di sana. Rupanya irwan pernah memfoto aku saat suatu waktu aku pernah mendapat duduk di satu perjalanan dan mencetaknya.

Aku bersama Indri dan suaminya tak berpikir panjang bergegas ke Rumah Sakit. di dalam perjalanan Indri bercerita panjang perjuangannya hingga akhirnya bisa bertemu aku.

Setiba di ruang perawatan, kudapati tubuh Irwan  yang lemah terbaring penuh dengan kabel dan selang sebagai penopang hidupnya.

Tak kuasa serta merta aku memeluknya, air mataku tumpah seakan menemukan jawaban, dari sejuta perasaan aneh ku selama tiga tahun ini.

Tak berapa lama, setelah itu....tiiiiiitttt...tiiittt..tiiiiittt terdengar suara yang berasal dari layar indikator jantung Irwan. Tangis ku kembali pecah.....




Cerpen terinspirasi dari ruang ICU RS Fatmawati 2015