Ketika Reuni Gagal, Mungkin ini Sebabnya

Ketika Reuni Gagal, Mungkin ini Sebabnya
Reuni....hmmm seneng dong yaa..!? Kalau dengar bakal ada acara reuni, apalagi reuni sekolah, zaman masih kinyis-kinyis, imut-imut gimanaa gituu!? Setelah bertahun-tahun akhirnya bisa berkumpul lagi sama teman seperjalanan dan seperjuangan di masa lalu. Heboh, seru, dan gokil nya sudah bisa dibayangkan.

Masa awal saat facebook baru di temukan trend reuni banyak terjadi di mana-mana, khususnya buat generasi jadul dari tahun sembilan puluhan kebawah. Iya, maklum ini kan memang generasi yang susah terhubung satu sama lain. Setelah lulus sekolah yaa.., Berpencar tanpa ada komunikasi lagi. Saya sendiri termasuk generasi ini nih!


Reuni yang pernah saya datangi hanya reuni SMP. Kami baru berkumpul mengadakan reuni kecil, setelah lebih dari lima belas tahun lulus, itupun tidak semua hadir, hanya sebagian kecil, dari beberapa kelas yang ada, jumlah yang tidak ikut masih lebih banyak.

Lika-liku mengurus acara reuni ternyata tidak mudah loh! Menghubungi teman-teman satu persatu dan mengatur acara reuni supaya lancar dan sukses itu penuh perjuangan dan pengorbanan. Makanya saya salut deh sama orang yang mau susah dan repot-repot jadi panitia reuni.

Kesuksesan reuni tergantung dari partisipasi semua alumni, bukan hanya panitianya aja. Semakin kompak dan solid, acara reuni pasti seru dan berkelanjutan. Malah ada yang akhirnya bisa membentuk jadi komunitas besar sampai membuat yayasan segala.

Tapi nggak bisa di pungkiri ada juga acara reuni yang gagal. Gagal yang saya maksud itu yang nggak berkelanjutan setelah kumpul pertama kali. Banyak yang menghindar untuk ikut acara selanjutnya.

Sebab paling umum lain masih banyak yang minder akut dan malu menghadiri acara reuni karena merasa bukan "siapa-siapa" baik itu dulu maupun sekarang. 

Kesuksesan sebuah reuni biasanya berlanjut kepada intensitas komunikasi yang baik. Setelahnya, maka akan ada reuni ke dua, ke tiga dan seterusnya. Bahkan mungkin bisa berkembang menjadi arisan, family gathering atau reuni akbar.

Berdasarkan pengalaman dan hasil sharing teman-teman saya yang punya pengalaman reuni yang gagal, hal ini umumnya terjadi karena komunikasi nggak berjalan mulus dan nggak berkelanjutan.

Selain alasan sibuk bekerja dan tidak ada waktu yang cukup, beberapa hal ini mungkin bisa jadi penyebabnya:

  • Berbagi broadcast atau foto berunsur pornografi dan kekerasan, opini yang menggiring ke sikap politik tertentu, atau membahas isu agama yang sensitif  di grup chat media sosial. Reuni identik dengan grup chat media sosial, entah itu whatsapp, messenger, line dan lain-lain. Mungkin dengan maksud bercanda, supaya seru, terkadang ada saja oknum teman yang iseng. Berbagi gambar dan BC (Brosdcast Messege) yang mengarah vulgar untuk di bahas. Kondisi hari ini tentu tak sama dong yaa. Apalagi jika sudah berumah tangga, ini bikin risih dan nggak nyaman. Hal seperti ini sangat sensitif, sebisa mungkin harus bisa menjaga perasaan dan kepercayaan pasangan masing-masing. Ngomongin politik juga bikin malas nih apalagi kalau lagi musim kampanye, terus di sangkut pautkan ke isu SARA yeaah, left aja deh.
  • Tiba-tiba di malam hari (diatas jam sepuluh) ada chat personal masuk dari teman lama, lalu bertanya "....pasangan kamu lagi ada di rumah, nggak?" Ini juga alert untuk reuni fail. Hmmm..?! Kira-kira ini maksudnya apa ya? Beware aja deh kalau mengalami hal ini.
  • Ada yang lebay tebar pesona. Iyaa deh yang dari dulu sampai sekarang tetap ganteng, cantik, percaya koq! Tapi nggak saban hari juga berbagi wajah update atau gonta-ganti picture profil. Atau ada yang over pamer kesuksesan, ingin mengenang masa jayanya saat sekolah atau ingin menunjukkan eksistensinya saat ini secara berlebihan. Mungkin ini salah satu alasan beberapa orang malas hadir di acara reuni. Ada yang bilang reuni bisa jadi ajang pembuktian diri, sebagai teman lama tentu senang dan bangga kalau ada teman yang kini sudah sukses. Tapi kalau di show-off berlebihan, bahkan terkesan merendahkan yang lain hmmm. Jika reuni ada yang seperti ini percaya deh, suasana reuni kurang seru.
  • Mengajak bisnis MLM atau agen asuransi, ini juga banyak terjadi, demi menambah downline, banyak yang memanfatkan ajang reuni untuk merekrut anggota baru. Sah-sah saja sih sebenarnya, atau ada juga teman yang selalu berbagi info dagangannya, ini juga nggak asyik, ini membuat seakan teman lama cuma sebatas target jualan, ini juga bikin reuni bakal nggak asyik lagi.
  • Ada yang CLBK (Cinta Lama Belum Kelar) Beberapa orang menghindari reuni karena alasan ini. Takut ketemu mantan. Namun ada juga yang nekad melanjutkan nostalgia padahal masing-masing sudah punya pasangan. Kalau ada yang seperti ini pasti malas deh ikut reuni lagi, walaupun itu sebenarnya urusan masing-masing yah! Tetap saja bikin nggak nyaman yang lainnya.
  • Masih ada yang nge-gank, setelah reuni masih pilih-pilih teman. Ini juga bikin fail reuni. Reuni seperti ini nggak asyik. Reuni membuat kita menjadi orang yang asing satu sama lain, wajah-wajah nya mungkin sudah lupa-lupa ingat. Hal ini membuat kita seakan berkenalan dengan teman baru. Kunci reuni yang asyik adalah ketika semua pesertanya tetap bisa nge-blend meski dulu mungkin tidak akrab atau tidak pernah sekelas di sekolah.
  • Terlalu banyak gosip, iya di mana-mana ini masalah klasik yang bikin acara apapun nggak asyik, mungkin karena kadar kepedulian kekepoan yang tinggi. Tapi ini bikin fail reuni. Gosip kadang perlu juga buat ice breaking aja biar nggak garing, tapi jangan di gosok terus, nanti kalau kebablasan dan "kebakaran" pasti bikin pusing semuanya, obrolan jadi nggak "sehat". Gokil dengan bijak itu penting banget saat reuni. Penting sekali untuk membuat batasan mana yang layak di bahas mana yang tidak.
  • Perbedaan interest yang tajam. Karena "seragam" kita tak lagi sama maka pemikiran kita tentu saja juga tak sama, nah kalau tidak bisa mensikapinya dengan bijak, ini juga bisa bikin fail reuni.
  • Tak jelas arah pembicaraan. Acara kumpul-kumpul hanya berkembang jadi wacana, tidak di matangkan dan di bicarakan dengan jelas.
Ini cuma catatan kecil saja, mungkin masih banyak sebab lain kenapa reuni berkembang jadi nggak asyik. Namun biar bagaimanapun reuni tetap mempunyai dampak positif lebih banyak. Seperti kita tahu reuni kan sama dengan menyambung tali silaturahmi. Efek positif silaturahmi adalah bisa memperpanjang umur, menambah rezeki, dan menambah jaringan pertemanan yang lebih luas.

Reuni yang berhasil bergantung kedewasaan para pesertanya. Dengan begitu reuni bisa asyik dan menyenangkan, berkelanjutan bila perlu menjadi sebuah komunitas yang besar, tetap seru dan menyenangkan, setiap bertemu lagi. 

Bagaimana reuni teman-teman, masih berlanjut atau sudah lost kontak (lagi)? Ada yang bikin arisan atau bubar jalan? Kalau reuni sekolah saya...hhmm babyar blas deh, kayaknya..!? Tetapi meski begitu saya keep positif. Komunikasi dan jalin pertemananan yang sehat dengan yang masih terhubung masih saya lakukan.

6 comments

  1. Saya menemukan arti CLBK baru disini... yaitu Cinta lama belum kelas... lama banget ya tuh kelarnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lama ajah bukan lama banget.....hhehe..

      Delete
  2. Wah sbentar lagi SMP ku reuni nih mba, reuni akbar 32 angkatan, doain moga sukses yaaa ^^
    Jgn sampe yaaa CLBK :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeeaah aseek...have fun ya..awas dagdigdug lagi lohh..hihi..

      Delete
  3. Waduh kalau yang no 2 nanya2 soal pasangan ada di rumah atau nggak itu males amat ya. Btw saya suka kurang sreg kalau di grup ada ledek2an soal mantan pacar. Meski ga pernah jadi sasaran sih, cuma risih aja.

    ReplyDelete
  4. gak asik klo reuni cuma buat ngebuktiin kita sukses.. nah yag lain cuma irt... mau reuni atau ngebanggain harta sih?? *nah emosi :D

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung, apalagi sampai mau komen, duh saya happy banget, semoga tulisan saya bermanfaat... saya mungkin tidak selalu bisa menjawab komentar, tapi saya usahakan untuk berkunjung balik, jika ada pertanyaan sila hubungi saya by email, dan maaf yah....! Untuk yang memberi komen dengan link hidup akan saya delete. Terimakasih.