Peringatan 150 Tahun Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan: Sehat Jiwa Di Tengah Tantangan Hidup Masyarakat Urban


Peringatan 150 Tahun Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan: Sehat Jiwa Di Tengah Tantangan Hidup Masyarakat Urban

Men Sana In Corpore Sano
Didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, tentu tak asing dong yaa dengan istilah di atas, secara umum saya sepakat, mereka yang bertubuh sehat bisa di katakan berjiwa kuat. Namun setelah beberapa waktu lalu berkunjung ke RS Jiwa Soeharto Heerdjan, kesepakatan saya agak sedikit bergeser, betapa tidak, berada di tengah rumah sakit jiwa, saya dapati bahwa mereka yang bertubuh sehat, tidak selalu berjiwa sehat dan kuat.

Banyak penderita gangguan jiwa, secara fisik tampak sehat dan bugar. Di rumah sakit yang telah berusia 150 tahun ini, wawasan saya terbuka, gambaran rumah sakit jiwa yang terkesan "spooky" dalam benak saya sedikit memudar. Rumah sakit jiwa ternyata tak seseram yang saya bayangkan, pun demikian dengan pemahaman masalah gangguan kejiwaan, nyatanya tak sekusut yang saya pikirkan.



Dalam acara Meet Blogger merayakan HUT RS Jiwa Soeharto Heerdjan dengan tema "150 tahun setia memberikan pelayanan kesehatan jiwa, terus menjawab tantangan kesehatan jiwa masyarakat perkotaan" di hadiri oleh direktur utama, Bapak Aris Tambing MARS juga Sekretaris Dirjen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan  DR. dr Agus Hadian Rahim, dengan moderator Dr. Isa Multazam Noor.

Acara ini di isi oleh narasumber dokter ahli spesialis kejiwaan yang bertugas di RSJ Soeharto Heerdjan di antaranya dr. Nova Riyanti Yusuf SpKj anggota DPR, yang juga ketua umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kejiwaan Indonesia wilayah DKI Jakarta, serta Dr.dr Suzy Yusna Dewi, SpKJ (K) psikiater anak dan remaja, selain itu ada juga Bapak Budi Putera seorang blogger professional, wartawan senior, yang memberikan wejangan bagi kami para blogger yang hadir tentang bagaimana peran blogger dan cara menulis isu-isu sensitif dengan baik dan benar, salah satunya adalah masalah kejiwaan.

Sebelum memulai acara, para blogger yang hadir terlebih dahulu di ajak berkeliling ke beberapa area rumah sakit, di pandu oleh dr. Savitri Wulandari, kami mendatangi ruang perawatan atau daycare para penderita gangguan jiwa yang sudah mulai bisa mengendalikan diri dan dalam tahap penyembuhan, tempat ini terdiri dari ruang praktek keterampilan dengan berbagai aktivitas, ada ruang workshop sekaligus pameran hasil karya para penyandang gangguan jiwa, seperti lukisan, kerajinan tangan aneka craft, tempat membuat telur asin, dapur tata boga untuk memasak dan membuat kue, serta salon tempat belajar tata kecantikan.
Daycare tempat terapi para penyandang gangguan jiwa yang sudah mulai bisa mengendalikan diri
Peringatan 150 Tahun Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan: Sehat Jiwa Di Tengah Tantangan Hidup Masyarakat Urban


Kami juga bertemu dengan Dr. Safyuni Naswati SpKj, yang di kenal sebagai dokter pembebas pasung, beliau telah berkeliling Indonesia, ke pelosok daerah-daerah mencari siapa saja orang dengan gangguan jiwa yang di pasung. Dalam hal ini Dr. Safyuni menegaskan pentingnya kesadaran pemahaman masyarakat akan mereka dengan gangguan kejiwaan.

Pasung bukan lah solusi, ini melanggar hukum dan hak asasi manusia, jadi apabila di lingkungan sekitar tahu atau mendengar ada orang yang di pasung, segera hubungi RS Jiwa, rumah sakit akan melakukan penjemputan, perawatan dan penanganan lebih lanjut, karena sebagai rumah sakit pusat grade A RSJ Soeharto Heerdjan, juga berperan sebagai tempat penelitian.

Sejarah Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan

Berada di RSJ Soeharto Heerdjan membuat saya sangat bersyukur di karuniai kesehatan jiwa, RSJ Soeharto Heerdjan merawat ribuan pasien gangguan jiwa, dari mulai yang ringan, sedang sampai berat. Di dirikan sejak zaman kolonial Belanda, berdasar keputusan Kerajaan Belanda tanggal 30 Desember 1865, kemudian di putuskan oleh Gubernur Jenderal Belanda tanggal 14 April 1867, pembangunannya di mulai tahun 1876, di kenal dengan nama Rumah Sakit Jiwa Grogol, untuk menghilangkan stigma di tengah masyarakat terhadap daerah Grogol, tahun 1973 namanya di ubah menjadi Rumah Sakit Jiwa Pusat Jakarta, hingga akhirnya tahun 2002 di ganti lagi menjadi RS Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan hingga sekarang.

RSJ Soeharto Heerdjan telah melewati proses yang sangat panjang dalam perjalanannya, dan satu yang pasti selama ini banyak orang merasa tidak nyaman, bila harus pergi apalagi sampai harus berobat ke rumah sakit jiwa, takut di kira  memiliki gangguan jiwa atau gila, padahal tidak selalu seperti itu loh?!

Rumah sakit jiwa justru tempat yang paling tepat untuk berkonsultasi, apalagi jika kita memiliki masalah-masalah yang berhubungan dengan pikiran yang tidak tertangani sendiri, menurut Dr. Nova masalah kejiwaan biasanya di mulai dari masalah gangguan tidur dan gangguan kecemasan atau depresi, jadi jika sedang merasa mengalami dua hal ini, segeralah berkonsultasi, kalau RS Jiwa di rasa terlalu berat, coba lah datangi puskesmas-puskesmas tertentu yang mempunyai poli gangguan kejiwaan.

Tidak perlu malu dan ragu, berkonsultasi bukan berarti positif mengalami gangguan kejiwaan, ini penting di lakukan, sebagai tindakan antisipasi dan pencegahan, karena setiap tahun para penderita gangguan ini cenderung terus bertambah, sayangnya penanganan biasanya terlambat di lakukan, dan pasien di bawa ke rumah sakit jiwa dalam kondisi tingkat lanjut hingga harus di rawat inap, salah satu faktornya karena saat mengalami gangguan awal, enggan berkonsultasi kepada ahli jiwa, seperti psikolog dan psikiater.

Permasalahan gangguan jiwa menjadi masalah yang sangat kompleks, hampir di semua negara di dunia, khususnya di kota-kota besar tempat berkumpulnya masyarakat urban mengalaminya. Ini di tandai dengan peningkatan kasus bunuh diri, angka kriminalitas tinggi, maraknya anak jalanan, penyalahgunaan narkoba, gelandangan, tuna susila, pengemis dan lain-lain.

Semua hal di atas, sesungguhnya adalah puncak dari gunung es masalah kejiwaan, di balik itu ada banyak masalah krusial lain yang tidak tertangani dengan baik, mulai dari gangguan penyesuaian, fenomena sosial, kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT, rendahnya toleransi, perkembangan penyimpangan prilaku, perubahan sistem dan standar nilai, konflik, trauma, perubahan gaya hidup, agama dan spiritual yang memudar, di tambah lagi perkembangan teknologi yang membuat gaya hidup dan pola komunikasi berubah, adiksi internet, pornografi, pornoaksi, dan hadirnya sosial media.

Tuntutan hidup di kota besar lebih berat dengan ritme pekerjaan dan biaya hidup tinggi membuat tingkat stress bertambah, warga kota memiliki kecenderungan beresiko mengalami schizoprenia, dan pengendalian emosi yang buruk, warga di perkotaan juga cenderung merasa sendiri di tengah keramaian, karena masing-masing sibuk dengan urusannya.

Penggolongan gangguan jiwa secara sederhana di kelompokkan dalam beberapa hal:

  • Gangguan jiwa berat (psikosis) terdiri dari 
  1. Gangguan mental organik efek penyakit tertentu yang menyerang otak, seperti tumor otak, kelainan genetika.
  2.  Gangguan psikosis lainnya, seperti schizoprenia dan paranoid
  • Gangguan jiwa ringan
  1. Panik
  2. Cemas
  3. Fobia
  4. Depresi
  5. Pasca trauma
  • Gangguan kepribadian, banyak sekali, ini di antaranya:
  1. Antisosial
  2. Impulsif yaitu bertindak dan bergerak secara tiba-tiba sekehendak hati
  3. Anankastik, terlalu perfeksionis, teratur kaku dan pemalu dan pengawasan diri yang tinggi.
  • Penyalah gunaan obat-obatan
  • Retardasi mental yaitu orang-orang yang ber IQ rendah atau IQ jongkok

Masing-masing gangguan punya penanganan masalah sendiri, umumnya masalah gangguan jiwa bisa di atasi, apalagi jika sejak skala ringan di tangani.

Masalah biaya juga menjadi faktor yang membuat orang dengan gangguan jiwa enggan berobat, namun saat ini, perawatan di RSJ bisa di lakukan dengan menggunakan BPJS.

Banyak penderita gangguan jiwa yang berhasil di sembuhkan dan tidak kambuh lagi, di RS Soeharto Heerdjan banyak sekali contoh mereka yang berhasil sembuh dan bisa beraktifitas normal kembali, seperti seorang bapak yang bertugas sebagai cleaning service di rumah sakit ini, ternyata beliau dulu adalah pasien di rumah sakit Soeharto Heerdjan.

Kunci utama pada penanganan masalah kejiwaan ada di keluarga, kalau kita hafal dengan syair harta yang paling berharga adalah keluarga, yes itu benar banget. Keluarga sebagai entitas terkecil bisa meminimalisir gejala gangguan jiwa, dengan kebersamaan dan kehangatan dalam keluarga, semua masalah dan kerikil tajam dalam kehidupan bisa di atasi bersama.

Keluarga tidak di benarkan menyembunyikan anggota keluarga yang mengalami gangguan kejiwaan dengan alasan malu, atau aib, karena dukungan keluarga merupakan faktor utama, apalagi bagi mereka yang sudah mengalami gangguan jiwa berat, selain juga di bantu dengan obat-obatan psiko farmaka, dan beberapa terapi, seperti:

  • Terapi elektrik
  • Terapi perilaku
  • Terapi sosial
  • Terapi kerja
  • Terapi gerak
  • Terapi kelompok
  • Terapi keagamaan
  • Terapi meditasi
  • Terapi hipnoterapi

Lalu sebenarnya siapa sih orang yang di katakan sehat jiwa. Sehat jiwa adalah sebuah kondisi yang memungkinkan seseorang berkembang secara fisik, intelektual dan emosional secara optimal, apa saja ciri orang yang sehat jiwa;
  1. Dapat menerima kekurangan dan kelebihan yang terdapat pada dirinya, dan tidak melakukan hal yang tidak wajar untuk mengatasinya.
  2. Dapat menerima kelebihan dan kekurangan orang lain, dan dapat hidup damai berdampingan dengan orang lain.
  3. Dapat menerima tantangan dan perubahan dan menyesuaikan diri dengan keadaan tantangan dan perubahan tersebut.


Sebenarnya pembahasan mengenai sehat jiwa ini akan panjang kali lebar sama dengan luas, masih perlu beberapa blogpost lagi untuk mengulas masalah ini. Intinya Sebagai bagian dari masyarakat urban, semoga makin banyak yang tersadar dan paham akan pentingnya kesehatan jiwa, tidak hanya mementingkan kesehatan fisik semata, kita harus membuat hidup lebih berarti, dengan sehat jiwa dan raga, agar kondisi Mensana In Corpore sano, itu benar-benar nyata, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.

Peringatan 150 Tahun Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan: Sehat Jiwa Di Tengah Tantangan Hidup Masyarakat Urban





















5 comments

  1. mba, informatif banget postingannya. jenis2 terapinya aku baru baru tahu lho :O

    suika-Lovers.com

    ReplyDelete
  2. Setuju mba, sy sendiri baru sadar. Klo kesehatan jiwa lebih penting, di banding kesehatan fisik semata

    ReplyDelete
  3. Aku beberapa kali kesini krna dibelakangnya ada Sekolah KK sepupu

    ReplyDelete
  4. jangan stress aja ya mba biar kesehatan jiwa kita tetap terjaga hehehe

    ReplyDelete
  5. sangat menarik mbak tulisannya..........tfs

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung, apalagi sampai mau komen, duh saya happy banget, semoga tulisan saya bermanfaat... saya mungkin tidak selalu bisa menjawab komentar, tapi saya usahakan untuk berkunjung balik, jika ada pertanyaan sila hubungi saya by email, dan maaf yah....! Untuk yang memberi komen dengan link hidup akan saya delete. Terimakasih.