Belajar Memberi Stereotype Positif Dari Film Ngenest


Pernah memberi stereotype kepada orang lain?!

Pertanyaan seperti itulah yang langsung terbersit di benak saya...

Hmmm... Menonton film Ngenest, beberapa hari lalu ternyata membuat saya berasa ngenes, gimana ngga walaupun film ini di buat dalam bentuk komedi, yang bikin  ngakak guling-guling sampai akhir, ternyata tersirat satu pesan yang menurut saya terasa daleemm banget.

Ya! betapa mudahnya kita membuat stereotype, memberi penilaian kepada seseorang yang kita kenal hanya berdasarkan penampilan, suku, bangsa, agama atau ras nya.



Apa sih stereotype? Terdengar seperti merek alat elektronik yaa...semacam radio atau televisi mungkin.

Stereotype adalah serapan kata dari Bahasa inggris yang  menurut kamus besar bahasa indonesia di terjemahkan menjadi :

Stereotip/ste·re·o·tip/ /stéréotip/ 1 a berbentuk tetap; berbentuk klise: ucapan yang --; 2 n konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat

Stereotype adalah suatu citra mental yang menjadi keyakinan, mengasosiasikan suatu kelompok,secara keseluruhan dengan suatu ciri-ciri khusus.

   Stereotype dengan kata lain adalah label atau stempel yang kita berikan kepada orang lain, yang mengeneralisir sifat dan karakter seseorang baik negatif atau positif, efek dari suatu kesan kejadian, sikap atau sifat tertentu kelompok, ras, agama, suku, bangsa nya.

   Memberi stereotype bisa sangat merugikan dan berbahaya loh!?

 Iya..!

   Tengok Ernest Prakasa ( film Ngenest di buat berdasar kisah hidup Ernest Prakasa, salah seorang comic stand up comedy terkenal ) yang sejak kecil di Bully di pinggirkan habis-habisan, dan sering di tertawakan, karena terlahir sebagai keturunan Cina. Ayah Ernest adalah juga keturunan Cina pemilik sebuah toko, Stereotype orang cina yang umumnya pedagang beras, atau punya toko material kemudian (maaf) di anggap licik, curang dan kikir, di masyarakat kita.

   Hingga Akhirnya entah dapat pemikiran dari mana Ernest terobsesi memiliki pacar pribumi, dengan harapan "mungkin" jika berjodoh dengan pribumi anaknya tidak bermata sipit, dan tidak bernasib sama seperti dia, hmm...

    Di iringi berbagai macam kisah seru dan lucu, Ernest berkenalan dengan seorang gadis pribumi dari Bandung bernama Meira, meski ayah Meira pada awalnya tidak yakin dengan Ernest, salah satunya penyebabnya yaa.. itu.. karena dia keturunan China,  Ernest tak menyerah, hingga akhirnya berhasil memacari dan kemudian menikahi Meira.

    Dalam perjalanan rumah tangganya, keyakinan Ernest goyah begitu menyadari bahwa menikahi gadis pribumi ternyata tidak menjamin anaknya akan terlahir bermata belo', trauma masa lalunya yang selalu di bully pun hadir lagi, sekali lagi Ernest di bayangi ketakutan akan nasib anaknya kelak, hingga akhirnya Ernest selalu menolak keinginan isteri dan keluarga besarnya untuk segera punya anak, alhasil rumah tangga dan kehidupannya di dera konflik dan masalah berkepanjangan.


Menyimak kisah Ernest...

  Poin penting banget itu  tentang pemberian stereotype yang umum dan banyak terjadi di sekitar kita. Seperti kejadian bom beberapa hari lalu di sekitaran gedung Sarinah, juga kejadian pengeboman di banyak negara lainnya, tidak di pungkiri ada sebagian orang yang memberi stereotype kepada umat islam adalah teroris atau islam adalah agama teroris yang mengajarkan kekerasan, padahal meski mungkin pelakunya katanya muslim bukan berarti semua muslim adalah teroris tohh?! 

   Atau beberapa anggapan lain yang umum terdengar ada di masyarakat misalnya suku ini pasti begini, suku itu begitu, bangsa yang itu bla..bla..bla..

   Stereotype seringkali hanya merujuk kepada hal yang bersifat negatif, jarang sekali kita mendengar atau memberi stereotype positif kepada orang lain, padahal Stereotype seringkali lebih banyak tidak akurat nya loh... tapi yaa.. mungkin sudah umum juga kali yaa...orang lebih suka memandang apapun dari sisi negatif, dan sedihnya, pada akhirnya hal seperti ini di jadikan alasan atau pembenaran untuk mendiskriminasi orang lain.

   Film Ngenest nya Ernest Prakasa ini meski rate nya untuk remaja tetapi bisa juga di tonton bareng keluarga, komedi yang di suguhkan benar-benar menghibur, pesan yang ingin di sampaikan film ini pun dapet banget, cerita dan akting para pemainya jempol dah..!

Stereotype yang di alami Ernest adalah realita, mungkin pernah kita lakukan?
Atau pernah menjadi korban stereotype orang lain?

   Orang bijak mengatakan hidup adalah pilihan, pilih yang jahat atau baik, salah atau benar, negatif atau positif, jika memberi stereotype adalah pilihan, mengapa tidak kita memberikan stereotype yang baik dan positif kepada orang yang kita temui tanpa memandang dari mana mereka berasal, toh sejatinya setiap orang berbeda, setiap pribadi adalah spesial dan istimewa.

   Jadi yang mau ketawa ngakak guling-guling  juga kayak saya, sekalian ngurang-ngurangi stress.. boleh tuh,...?! filmnya masih beredar di bioskop, biar tahu juga endingnya seperti apa, plus siapa tahu juga, kita bisa sama-sama belajar dan berlatih memberi stereotype positif kepada orang lain.























4 comments

  1. recomended bgd nih ya mbk nunu,
    syg di tmpat eikeh kagak ade bioskop, jd mu

    ReplyDelete
  2. ngkin eikeh nunggu cdnya aja, hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. ooww..ngga ada bioskop mba? waah..kudu minta itu sama pemdanya :) tapi bisa juga mba semoga segera dapat cd nya..atau tunggu di tv nasional, siapa tahu yaa..

      Delete
  3. Keren nih rating dari filmnya :o Sinopsisnya juga keren sip lah

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung, apalagi sampai mau komen, duh saya happy banget, semoga tulisan saya bermanfaat... saya mungkin tidak selalu bisa menjawab komentar, tapi saya usahakan untuk berkunjung balik, jika ada pertanyaan sila hubungi saya by email, dan maaf yah....! Untuk yang memberi komen dengan link hidup akan saya delete. Terimakasih.