Silent Killer, Masakan Rumah Pasti Sehat, Yakin?

Silent Killer, Masakan Rumah Pasti Sehat, Yakin?


Ternyata, memasak sendiri tak menjamin makanan yang kita buat pasti sehat, jadi gimana dong yaa?! membeli makanan siap saji, tentu tak menjadi pilihan saya, iya, saya memang jarang sekali membeli masakan matang di warung makan, maklum kalau harus beli masakan jadi, buat saya yang punya anak jatuhnya kan jadi boros. Biasanya saya beli masakan matang tuh ya kalau badan lagi kurang fit, malas masak atau nggak sempat karena di buru banyak kerjaan.

Pun demikian dengan jajanan ya paling sesekali saja, kalau benar-benar pingin, ya.. seperti martabak manis, martabak telor, atau beli gorengan, malam-malam kalau lagi iseng. Nasi uduk, lontong sayur juga suka saya cari tuh pagi-pagi untuk sarapan, sesekali makan bakso atau mie ayam juga, kebetulan dekat rumah ada warung bakso yang enak, walau nggak sering, kadang-kadang saya pergi wisata kulineran bareng suami dan anak-anak.

Beli makanan matang atau jajanan itu memang enak, meringankan pekerjaan, dan praktis, meski begitu  kadang rasanya suka ada yang nggak sesuai selera, beda kalau kita buat sendiri, sudah begitu kalau beli di warung-warung makan kan kita nggak tahu proses masaknya seperti apa, dapurnya bersih atau tidak, sayuran dan bahannya bagus atau nggak.

Karena sudah terbiasa masakan rumah, lidah anak-anak juga seringkali kurang cocok masakan dari luar rumah, kadang kalau lagi ngga sempat masak kemudian beli, eh anak-anak nggak mau makan, ujung-ujungnya ya minta telur ceplok. Eh tapi, jika masakan rumah tak pasti sehat, terus harus makan apa?

Beretempat di auditorium rumah sakit Pusat Pertamina (RSPP) Acara ini di isi oleh praktisi kesehatan, tentunya bukan untuk membuat khawatir, apalagi tajuk Masakan Rumah, The Silent Killer? adalah sebuah pertanyaan, yang membutuhkan jawaban.

Silent Killer, Masakan Rumah Pasti Sehat, Yakin?
Para pembicara

Silent Killer, Masakan Rumah Pasti Sehat, Yakin?
Peserta acara yang antusias


Dan jawabannya ada pada penjelasan Dr Entos Zainal, Dcn.Sp.Mphm, Ibu Theresia Irawati SKM, Mkes dari Kementerian Kesehatan dan dr. Ibu Tirta Prawita Sari, SpGk. Msc seorang dokter ahli gizi.

Menurut Dr. Entos pola makan manusia saat ini, khususnya di kurun waktu tigapuluh tahun terakhir, telah bergeser, cenderung tidak mengindahkan faktor asupan kecukupan gizi, dan kondisi ini sudah terjadi sejak manusia dalam kandungan, padahal masa-masa ini paling krusial dalam perkembangan hidup manusia, saat dimana  pertumbuhan otak di mulai.

Persoalan pola makan, menjadi perhatian bukan hanya di Indonesia, tetapi juga sudah menjadi sebuah issue global, karena pergeseran pola makan manusia, di nilai menjadi penyebab penyebaran dan meningkatnya pertumbuhan penderita berbagai macam jenis penyakit tidak menular atau PTM, seperti jantung, gagal ginjal, diabetes, darah tinggi dan lain-lain.

Penyakit tidak menular pada zaman dulu di identikkan sebagai penyakit orang kaya, tapi saat ini kita bisa lihat, orang-orang dari berbagai lapisan mengidap PTM, beberapa bahkan terjadi di usia yang masih sangat muda. Oleh karena itu menurut ibu Theresia, pemerintah saat ini sedang menggalakkan program Germas kepanjangan dari Gerakan masyarakat sehat, salah satunya dengan cara mengedukasi ibu-ibu, agar memperhatikan pola makan dan pola hidup dalam keluarga.

Menurut data, PTM adalah penyebab dari 71% kematian di Indonesia, trend peningkatan tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi menghantui masyarakat Indonesia, untuk jumlah penduduk kelebihan berat badan terbanyak, negara kita berada di peringkat ke empat di asia Tenggara.

Pola makan dan pola hidup seperti apakah yang berpotensi menimbulkan PTM? Di jelaskan oleh ibu dr Tirta Prawita Sari, pola makan yang tidak seimbang, adalah pola makan yang banyak memakan makanan:
-  Lebih tinggi lemak, terutama lemak trans seperti goreng-gorengan atau minuman bersoda 
-  Banyak gula, terlalu banyak karbohidrat, 
- Kurang serat, seperti sayuran dan buah-buahan
-  Banyak garam.

Menurut peraturan kementerian kesehatan no 30 tahun 2013, batas konsumsi yang di sarankan pada setiap orang, untuk Gula adalah 4 sdm/hari, Garam satu sendok teh/hari dan minyak atau lemak satu sendok makan perhari

Sementara pada pola hidup yaitu hidup yang 
- Kurang aktif bergerak
- Tidak rajin mengecek kesehatan
- Kebiasaan merokok dan minum alkohol
- Stress kurang istirahat.

Manusia memerlukan Vitamin dan mineral dalam tubuh, khususnya vitamin A, D, E, K yang dalam prosesnya memerlukan lemak sebagai penghantar agar bisa di serap oleh tubuh, sayang nya lemak yang banyak di gunakan saat ini adalah lemak trans, apa itu lemak trans? Lemak trans atau lemak tak jenuh, adalah lemak yang tidak memiliki ikatan ganda, karena seluruhnya telah terikat dengan hidrogen, dan jenis lemak ini menurut penelitian bisa memicu penyakit jantung, kolesterol dan lain-lain. nah produk-produk yang mengandung lemak trans selain banyak di pakai di produk-produk makanan jadi, makanan olahan, makanan siap saji dan bahan-bahan pendukung untuk masak.

Produk-produk makanan mengandung lemak trans juga banyak di pakai di dalam rumah tangga, ibu-ibu memasak dengan bahan-bahan masakan yang mengandung lemak trans di dapurnya. Produk-produk yang mengandung lemak trans mudah kita temui, pada labelnya biasanya akan tercantum label seperti ini.

Silent Killer, Masakan Rumah Pasti Sehat, Yakin?
Perhatikan label pada kemasan, ini adalah keterangan produk yang mengandung lemak trans



Nah, inilah yang menyebabkan mengapa masakan rumah bisa menjadi The silent killer, pembunuh diam-diam yang mengintai keluarga, karena ibu-ibu menggunakan lemak trans dalam masakannya, lemak trans umumnya terdapat dalam minyak goreng, margarin, atau mentega.

Lalu bagaimana cara untuk menghindari lemak trans, menurut dr Tirta bisa lakukan dengan cara ini
  • Kurangi konsumsi makanan jadi atau fast food
  • Pilih butter daripada margarin
  • Pilih olive oil atau minyak kelapa
Memilih memasak dengan jenis minyak di atas bagi saya sedikit repot, yaa tahu sendiri kan olive oil dan butter harus di beli di supermarket besar, sedangkan minyak kelapa sudah agak sulit di dapat, harganya pun lumayan di kantong, sebagai alternatif maka ibu harus memilih minyak lain yang lebih mudah di dapat, tapi tak mengandung minyak trans.

Dan hal itu ternyata ada pada SunCo, menurut ibu Maulani Widjaya selaku perwakilan SunCo, simposium ini memang di selenggarakan oleh SunCo, sebuah brand minyak goreng, yang ingin mengedukasi ibu-ibu untuk mengenal lebih jauh produk SunCo, selain juga memberikan pengetahuan tentang kesehatan, yang banyak di pengaruhi dari masakan. SunCo peduli pada kesehatan keluarga Indonesia, karenanya SunCo berkomitmen untuk menghadirkan produk minyak goreng yang tidak merusak kesehatan masyarakat Indonesia.

Silent Killer, Masakan Rumah Pasti Sehat, Yakin?

Silent Killer, Masakan Rumah Pasti Sehat, Yakin?

Silent Killer, Masakan Rumah Pasti Sehat, Yakin?
Sunco #MinyakGorengBaik yang #DikitNempel

Tak ketinggalan brand ambassador SunCo Christian Sugiono juga turut hadir di acara ini, Artis ganteng ini menceritakan kiat hidup sehatnya bersama isterinya Titi Kamal dan Juna putera semata wayangnya, bagaimana beliau di tengah kesibukkannya, tetap berusaha menjaga pola makan dan pola hidup sehat. Di acara ini Tian juga mendemokan kelebihan minyak goreng SUNCO yang karena  saking cairnya dan bertekstur seperti air, minyak goreng SunCo di minum.

Tapi anehnya menurut Tian minyak ini tak terasa nempel, nyangkut dan getir di tenggorokkan, jadi kalau di minum saja tidak nempel apalagi di pakai untuk masak, yaa kan? Saya jadi ingat gorengan yang biasa saya beli, saking nempelnya di makanan, tangan berasa cuci tangan dengan minyak. Nah dengan minyak goreng SunCo minyak goreng menjadi #dikitnempel di gorengan, mengapa bisa seperti itu? karena SunCo memiliki semua ciri minyak goreng yang baik.

Silent Killer, Masakan Rumah Pasti Sehat, Yakin?
Christian Sugiono bercerita kiat sehatnya



Seperti apakah ciri minyak goreng yang baik:

#MinyakGorengBaik

  1. Karakternya seperti air, lebih cair dan sedikit nempel di makanan, tidak lengket dan menyerap berlebih di makanan, telah di lakukan uji organoleptik untuk membuktikan minyak goreng yang baik secara sensorik
  2. tidak mudah beku, ini membuktikan kandungan minyak jenuh terendah, yang dapat meminimalkan kolesterol jahat.
  3. Lebih bening dan bersih, ini tanda minyak kelapa sawit segar yang di gunakan dipilih dengan baik dan segar, tidak kuning, warna bening menandakan minyak goreng dalam kondisi baiktidak mudah teroksidasi, sehinggan tidak rentan terhjada resiko kanker.

Penggunaan minyak goreng juga sangat penting mengatur pemakaiannya, jangan gunakan minyak goreng secara berulang, apalagi jika minyak yang di pakai sudah berubah warna menjadi jelantah yang hitam pekat, minyak ini sangat berbahaya,

Minyak goreng SunCo tidak cepat berubah warna, minyak yang cepat berubah warna, beresiko menjadi pemicu penyakit kanker karena kandungan asam lemak bebas nya yang tinggi, Sunco masuk dalam kriteria minyak goreng yang baik dan dikit nempelnya di makanan yang di masak

Sebagai ibu saya cukup lega mengetahui informasi bermanfaat seperti ini, yang pasti kita harus lebih perhatian kepada produk apapun yang kita beli dan konsumsi, acara yang di tutup dengan demo masak dari Chef Ananda ini memberikan banyak wawasan baru, acara SunCo ini juga merupakan bagian dari keikutsertaan SunCo mendukung gerakan masayarakat sehat.



Silent Killer, Masakan Rumah Pasti Sehat, Yakin?



Minyak goreng berkualitas tentu harus jadi pilihan untuk informasi lengkap tentang SunCo bisa dilihat di website SunCo, #MinyakGorengbaik yang #DikitNempel ini berbagi banyak informasi penting di sini  www.minyakgorengsunco.com dan untuk mencari solusi seperti apa sih masakan rumah yang sehat kita bisa mendapatkan informasinya dengan berseluncur dan praktek resep yang tersedia di  www.resepsehat.com, menarik banget nih, saya mau coba, jadi kan saya bisa lebih tenang dan yakin kalau masakan yang saya buat sudah sehat, lezat dan aman untuk kesehatan keluarga saya.


10 comments

  1. Sunco memang terbukti tidak mudah berubah warna, lebih encer dan lebih jernih.Saya juga di rumah gunakan sunco

    ReplyDelete
  2. Minyak goreng identik dengan lemak n menyebabkan kolesterol yaa mba jd emang mesti selektif milih produk yg memprioritaskan kesehatan

    ReplyDelete
  3. Sunco minyak andalan keluarga...selalu pakai minyak ini ya gegara kandungannya yang sehat...

    ReplyDelete
  4. duh baca artikel ini jadi terbuka deh.. makasih informasinya ya mba Nunuu.., pemilihan minyak goreng yang tepat emang penting banget ternyata yaa...

    ReplyDelete
  5. wahhh ternyata harus cermat yah, gak boleh bandel nihhh

    ReplyDelete
  6. Kematian pun bisa berawal dari minysk ya mb nunu
    Ah ini peer bener ngurangin junkfood eyke hihihi

    Minyak olive oil mahal, mending dunco aja ya, terbukti 2 kali penyaringan

    ReplyDelete
  7. harus pinter2 milih minyak goreng ni

    ReplyDelete
  8. Sekarang sudah gak gundah lagi ya, Mbak. sudah ada SunCo untuk memberikan masakan yang sehat kepada keluarga tercinta

    ReplyDelete
  9. langsung lirik minyak goreng di dapur :P

    Kita kadang beli seadanya di warung sih, kalau pas belanja ke toko pilihnya SUnco ;)

    Selama ini aku menganggap makanan rumah selalu sehat lho, padahal belum tentu juga ya

    ReplyDelete
  10. Pas banget niiihhh... Aku kebetulan juga pake sunco di rumah...

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung, apalagi sampai mau komen, duh saya happy banget, semoga tulisan saya bermanfaat... saya mungkin tidak selalu bisa menjawab komentar, tapi saya usahakan untuk berkunjung balik, jika ada pertanyaan sila hubungi saya by email, dan maaf yah....! Untuk yang memberi komen dengan link hidup akan saya delete. Terimakasih.