Ke Singapura Lewat Batam


Serunya Ke Singapura Lewat Batam

Sebagai provinsi yang terletak di pulau terluar Indonesia, Batam adalah beranda sekaligus pintu gerbang Indonesia untuk terhubung dengan negara lain, salah satunya dengan Singapura dan Malaysia, negara tetangga terdekat kita, yang berbatasan langsung dengan Batam.

Saya sudah beberapa kali ke Batam, tetapi hanya sekadar transit untuk melanjutkan perjalanan, dan menurut saya ke Singapura lewat Batam memang lebih mengasyikkan, meski banyak penerbangan langsung dari Jakarta, memasuki Singapura lewat Batam memiliki sensasi tersendiri.

   Termasuk perjalanan liburan imlek februari lalu, alhamdulillah saya bersama keluarga bisa pergi ke Singapura, dan lagi-lagi rute lewat Batam menjadi pilihan, karena ini perjalanan pertama untuk anak-anak ke luar negeri, kali ini kami memilih untuk menginap satu malam di Batam, maklum kami masuk rombongan keluarga b*drx yang kalau kemana-mana agak ribet bisa bikin sakit kepala, jadi mengatur suasana perjalanan menjadi senyaman mungkin benar-benar harus dipikirkan.

  Menginap di Batam sebenarnya untuk istirahat saja, karena jadwal keberangkatan pesawat kami dari Jakarta ke Batam dapat yang sore hari, kalau langsung melanjutkan perjalanan, kasihan anak-anak, pasti terasa melelahkan, lagi pula kami memang tidak berencana jalan-jalan ke Singapura, cuma mau keliling Singapura beberapa jam saja, tujuan sebenarnya ingin ke Legoland di Johor Bahru, Malaysia.

   Sesampainya di Bandara Hang Nadim kami pun disambut taksi untuk mengantar kami ke hotel. Mendapati penumpang keluarga rempong macam kami sudah pasti banyak pertanyaan yang diajukan pak sopir kepada kami, mulai dari tanya asal mana ? ngapain ke Batam? berapa lama di Batam? dll, lucunya percakapan yang terjadi antara kami membuat anak-anak terpesona atau lebih tepatnya sih norak, karena mendengar gaya bicara pak sopir yang ramah, kental dengan logat melayu asli, mereka tahunya gaya bicara seperti ini dari upin-ipin, dan mereka senang sekali mendengarkannya. Setelah bercerita kesana kemari sesaat sebelum kami tiba di hotel, pak sopir berujar jika kami belum sah pernah ke Batam kalau belum ke Jembatan Barelang.



  Waah,...! Jadi selama ini saya belum pernah ke Batam dong! Mendengar  ucapan pak sopir tentu saja anak-anak bertanya apa tuh jembatan barelang? di mana? boleh ke sana?

    Malam menjelang tidur kami mencoba googling Jembatan Barelang, ya! ini adalah sebuah jembatan ikonnya kota Batam, kalau melihat di peta, posisinya lumayan jauh dari hotel tempat kami menginap, kepikiran juga untuk mengunjungi jembatan ini (yang tidak ada dalam itinerary), tapi berhubung sudah sangat lelah kami memilih tidur.

    Keesokkan hari, pagi-pagi sekali saya sudah membangunkan anak-anak, meski terlihat masih lelah mereka tetap terlihat ceria, ya mungkin perjalanan ini kan sesuatu yang baru buat mereka, jadi excitednya luar biasa. Begitu bangun tidur mereka malah meminta untuk jalan-jalan di sekitar hotel yang terletak di tepi pelabuhan, kebetulan kami tidak memilih sarapan di hotel, jadi sambil mencari sarapan kami berkeliling sekitar hotel, jam menunjukkan pukul setengah enam lebih sedikit kala itu, sarapan yang diinginkan adalah bubur ayam, tapi setelah berputar-putar mencari, tak ada satupun tukang bubur di sekitar situ.

     Akhirnya kami bertanya kepada seorang sopir taksi yang sedang mangkal, menanyakan di mana tempat mencari bubur ayam, dan menurut pak sopir jarang sekali tukang jualan di area pelabuhan sepagi ini, pelabuhan masih sepi, dengan cara yang sopan tanpa terkesan memanfaatkan situasi, pak sopir menawarkan jasanya untuk mengantar kami ke pasar yang tidak jauh letaknya, kemungkinan di sana ada banyak pilihan penjual makanan, termasuk bubur ayam yang kami cari. Selain menawarkan diri untuk mengantar kami ke pasar pak sopir juga menawarkan hal lain, yaitu mengunjungi jembatan Barelang, katanya mumpung hari masih pagi, suasananya masih sepi, jalanan lancar, kami bisa membungkus makanan dan menikmati sarapan di sana.

    Terkesan dengan cara pak sopir menawarkan jasanya kamipun mengiyakan, lagipula kami toh sudah di sini, sayang juga tidak menikmati suasana kota, apalagi beliau tidak menembak harga, karena taksinya menggunakan harga sesuai argo, ya baiklah tawaran pun bersambut.
Serunya Ke Singapura Lewat Batam

Serunya Ke Singapura Lewat Batam
Suasana pelabuhan dari belakang hotel



     Pasar di Batam suasananya terasa sekali perpaduan budaya melayu dan cina, aksara cina menghiasi banner dan spanduk toko-toko, berdampingan dengan bahasa melayu, termasuk juga para pedagang dan pembelinya, sekilas sudah terasa mirip-mirip suasana Singapura, setelah membeli sarapan, perjalanan ke Jembatan Barelang pun dimulai.

Pak Yas, nama sopir taksi yang mengantar kami adalah seorang mantan ABK yang sudah pensiun dan mengisi hari-harinya menjadi sopir taksi, ini adalah caranya untuk tetap bisa aktif, agar otaknya tetap berfungsi, begitu katanya. Beliau benar-benar menguasai segala hal tentang Batam, dalam perjalanan beliau bercerita banyak tentang Batam, termasuk segala perubahan dan perkembangannya dari dulu hingga hari ini, kami jadi berasa turis yang dipandu seorang guide. 

    Menurut cerita pak Yas, warga Batam sangat menghormati sosok bapak BJ Habibie, presiden Indonesia ke tiga, sebagai bapak penggagas pembangunan Batam, termasuk jembatan Barelang, tidak heran di tengah kota saya lihat ada satu proyek pekerjaan pembangunan satu kawasan super blok dengan wajah bapak BJ Habibie terpampang jelas, namanya Miesterstadt, selain itu pak Yas juga bilang jembatan Barelang adalah satu tempat langganan orang yang berniat bunuh diri ihh...Seremm! anak-anak  bergidik mendengarnya, katanya sudah tak terhitung lagi orang yang memutuskan mengakhiri hidupnya melompat dari sana.

    Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, kami tiba di jembatan barelang, suasana nya masih sangat sepi, belum banyak orang dan lalu lintas kendaraan, pemandangan hamparan laut yang di belah jembatan ini sungguh menyejukkan mata, kamipun menikmati sarapan di salah satu restoran outdoor yang belum buka, leluasa sekali rasanya. Puas berfoto ria dan menikmati suasana jembatan ini. Akhirnya kami sah pernah ke Batam.

   Keseruan lain ke Singapura lewat batam adalah sensasi naik kapal penyeberangan antar pelabuhan, inilah yang membuat saya  senang  ke Singapura lewat batam, naik kapal penyeberangan dengan kecepatan tinggi terasa seperti melompat ala lumba-lumba, pada awalnya anak-anak terlihat takut untuk naik kapal, tapi begitu kapal mulai berjalan mereka senang juga, ketakutan pun sirna. Perbedaan yang kontras antara dua pelabuhan di Singapura dan Batam juga bisa menjadi wawasan tersendiri untuk anak-anak.

   Keseruan ke Singapura lewat Batam jadi bertambah dengan mengunjungi jembatan Barelang yang tak terencana, memang yah kadang-kadang sesuatu yang terjadi karena spontanitas alias dadakan terasa lebih menyenangkan, lain waktu sepertinya kami harus merencanakan juga nih perjalanan khusus ke Batam, menikmati pemandangan indah lainnya. Apalagi pak Yas juga menambahkan di Batam dalam beberapa tahun mendatang akan dibangun themepark yang bertema Eco themepark yang konon akan menjadi yang terbesar di dunia, yaa kita tunggu saja semoga menjadi kenyataan.


   



    




 








 



 


Write a comment