Menjadi Dekat Dan Terhubung Dengan Anak ABG (Remaja)

Menjalani proses tumbuh kembang anak-anak, hingga bisa sampai seperti hari ini, sering terselip rasa percaya nggak percaya pada diri saya.

Yaa ampuun?! Koq saya bisa  yah “membesarkan” mereka!? Maklum saya menjadi ibu di usia muda. Menikah umur 20, sebulan menikah langsung hamil.  Tanpa ilmu parenting, gizi, dan nutrisi memadai, jauh dari orangtua, plus kurang akses informasi. Rasanya banyak banget kekurangan saya. 

Setelah melalui berbagai fase perjalanan dan menghadapi berbagai rintangan dari bayi, masa balita sampai sekolah dasar, akhirnya kini anak-anak sudah memasuki masa ABG (Anak Baru Gede ) menjadi remaja. Yang paling besar usianya 16 tahun, yang kedua  14 tahun, dan yang ketiga kini sudah 11 tahun.


Makin bertambah usia anak, ternyata bukan berarti perjalanan makin mudah. Karena yang ada malah makin ulala, tantangannya udah beda dan lebih dahsyat lagi.

Tapi alhamdulillanya dari sisi waktu, sudah mulai agak enak ya. Nggak berebet-rebet banget waktu habis untuk mengurusi semua urusan anak, karena mereka sudah mandiri. Jadi bisa lebih santai dan punya waktu luang.


Menjadi orangtua nggak ada sekolahnya, dan andai anak-anak di lahirkan dengan membawa manual book masing-masing mungkin tugas bisa lebih mudah, hehe. Tapi di situlah seni dan nilainya.


Mendididik anak-anak di masa remaja, bagi saya, kadang terasa sulit tapi ada mudahnya juga, yaa pokoknya nano-nano gitu deh. Terutama di bagian komunikasi.

Ini tentu bukan tanpa sebab, mereka sudah punya second opinion. Kata-kata, masukan, dan nasihat orangtua bukan lagi satu-satunya pilihan yang harus di terima. Guru, buku bacaan, teman, lingkungan, juga media  seperti media sosial dan media-media online, sudah mempengaruhi tingkat penerimaan mereka terhadap omongan orangtua.

Nggak heran, menjangkau dan terhubung dengan mereka, baik fisik maupun psikis, jadi  bagian yang eng-ing-eng.

Apalagi zaman sekarang, tahu sendiri kan ya..?! Banyak contoh fenomena kehidupan remaja yang bikin ketar-ketir. Hidup di era globalisasi dengan jangkauan pergaulan yang luas via teknologi, perannya sangat besar dalam membentuk perilaku remaja saat ini.


Kalau sudah begitu, jadi flashback juga ke masa remaja diri sendiri, dan teringat bagaimana perjuangan orangtua dahulu. Meski zaman dan tantangannya beda, tapi feelnya bisa jadi sama.
 Ohhh..begini yaa  rasanya jadi orangtua?!

Dalam berkomunikasi dengan remaja, selalu ada pasang surut. Makanya pintar-pintar orangtua memposisikan diri.

Mengutamakan kesabaran, menurunkan level emosi, lemah lembut namun tetap tegas adalah beberapa kunci yang saya lakukan dalam menghadapinya.

Untuk beberapa alasan, mereka cenderung terbuka, tapi sering juga tertutup, bahkan bisa menolak melakukan kontak mata. Makanya keinginan untuk selalu dekat dan terhubung secara natural adalah harapan yang selalu saya usahakan. Bagaimana terhubung dan membangun kedekatan dengan anak remaja, prosesnya tentu harus di rintis sedari mereka kecil.

Alhamdulillah. Sejauh ini saya merasa cukup dekat dan terhubung dengan anak-anak, dalam membangun hal tersebut saya ingin share beberapa tips yang saya lakukan dengan anak agar selalu terhubung dan dekat dengan kita orangtua, di antaranya:

  1. Jangan terlalu berharap mereka pasti dengar apa yang di katakan orangtua, dan memaksa bertatap muka saat kita bicara, misalnya dengan posisi mereka duduk diam, sementara kita nyerocos ngomongin ini itu (ini mah orang pidato ya!) Berkomunikasi kapan dan di mana saja bisa di lakukan. Peka menangkap momen, karena kadang di situasi yang terasa sambil lalu, mereka malah nyimak dan ingat apa yang saya katakan, hadeuhh?!
  2.  Jangan biarkan “menghilang” terlalu lama tanpa pantauan. Pernah lihat anak ABG bonceng motor bertiga, lewat jam sebelas malam berkeliaran  di jalan raya? Nah, kemungkinan besar anak-anak ini “menghilang” dan di anggap  biasa saja oleh orangtuanya. Meskipun kita sangat sibuk, pastikan untuk check in di mana posisi anak, tidak perlu yang terlalu posesif segimananya, setiap menit di tanyai. Intinya, yang penting tahu di mana anak berada.
  3. Anak remaja sudah bisa “hang out” pergi keluar rumah bersama teman-temannya, entah untuk sekadar janjian di mall atau nonton film di bioskop. Kenali dengan siapa anak-anak berteman, cari tahu juga di mana rumahnya. Tidak perlu semua teman, cukup beberapa yang paling intens bersama dengan anak. Saat seperti ini. Kalau anak-anak  pergi, saya selalu pastikan, agar handphonenya aktif, full batere, dan siap paket data. Selain itu anggap teman anak-anak kita juga sebagai anak sendiri, jadi kalau ada yang main kerumah, ketemu di jalan atau apapun, sambut, layani, berinteraksi dengan mereka. Citra abg dalam pertemanan, sedikit banyak juga bisa jadi panduan memahami kepribadian mereka.
  1. Luangkan waktu untuk main-main, bercengkrama, di tempat tidur atau di kamar mereka, Meski tiap hari ketemu,bisa saja anak sebenarnya sedang kesepian. Ada hal-hal yang mungkin di rahasiakan, di sini biasanya suka kelihatan tuh gestur dan bahasa tubuh mereka, kalau baru masuk kamar udah mulai kikuk, jadi aware.
  2. Peka terhadap perubahan. Naluri ibu biasanya lebih kuat untuk hal ini. Namun menjadi peka, kadang-kadang juga perlu di latih. Untuk latihannya mungkin hanya ibu ya yang tahu rasanya. Yang terpenting  jangan sampai suudzhon sama anak sendiri.
  3. Tidak ada topik terlarang. Nah, ini penting di tengah gejolak usia remaja, berdiskusi terbuka dan jujur ​​ tentang apapun bahkan pada topik yang bikin risih dan nggak nyaman. Misalnya hal yang sangat personal. Pernah mereka tanya-tanya hubungan antara ibu dan ayah, seksualitas, gender, masalah uang dan lain-lain. Saya biasa menjawab sependek yang saya tahu, dengan bahasa yang sekiranya bisa mereka mengerti, seiring waktu mereka nantinya akan paham.
  4. Selaras dengan apa yang mereka suka. Memang sulit jika anak memiliki minat yang tidak menarik minat kita. Pahami dulu latar belakang mengapa mereka tertarik pada minatnya Selama apa yang di lakukan lebih banyak berdampak positif ke anak, mengalir saja.
  5. Menjadi teman tapi orangtua. Ini juga peer yang rasanya akan lama selesainya, karena pada dasarnya orangtua ya tetap orangtua, tidak mungkin menjadi teman dalam arti harfiah. Secara general menjadi teman dengan anak konteksnya agak rumit. Sayapun masih belajar.
Setiap keluarga pasti punya cara masing-masing dalam teknis pengasuhan, sebenarnya masih banyak hal lainnya yang kami lakukan, namun yang pasti dalam semua hal yang berhubungan dengan remaja, yang utama adalah tentang kualitas waktu.

Kita hanya diberi waktu 24 jam dalam sehari, dan hanya hitungan hari dalam seumur hidup, jadi mengalokasikan  kualitas waktu  untuk mereka adalah hal utama.

Apalagi seiring waktu mereka akan tumbuh dewasa, memiliki hidup dan dirinya sendiri. Waktu takkan pernah kembali.

Ini hanya sekedar sharing ya, sayapun masih banyak belajar. Bagimana konsisten membangun kedekatan dan hubungan itu terus menerus. Semoga dengan modal hubungan dan kedekatan, mereka bisa tumbuh menjadi pribadi baik di masa depan, paling tidak untuk diri mereka sendiri. Aamin

4 comments

  1. Well note ka Nunu.. persiapan buat anak abge nanti. anakku laki2 semua nih mba.. semoga sama ya pendekatannya dengan anak perempuan, semangat!

    ReplyDelete
  2. Ibu harus bisa jadi sahabat anak ya. Pasti anak pun nyaman.

    ReplyDelete
  3. Makasih sharenya mbak, bisa jadi persiapan saya saat dikaruniai anak ini

    ReplyDelete
  4. Wow bermanfaat banget buat saya nih, mba. Si Abang dah setengah ABG.. xixixi.. kelakuannya pun setengah ABG. Kadang kayak ABG, kadang anak2nya masih keliatan juga.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung, apalagi sampai mau komen, duh saya happy banget, semoga tulisan saya bermanfaat... saya mungkin tidak selalu bisa menjawab komentar, tapi saya usahakan untuk berkunjung balik, jika ada pertanyaan sila hubungi saya by email, dan maaf yah....! Untuk yang memberi komen dengan link hidup akan saya delete. Terimakasih.