Belajar Food Fotography Bersama Komunitas Upload Kompakan Depok

Mengambil foto-foto bagus dari makanan adalah keterampilan yang susah-susah gampang. Banyak susahnya sedikit gampangnya hahaha. Itulah yang saya rasakan ketika hari sabtu lalu mengikuti wokshop belajar foto bareng komunitas Upload Kompakan Depok atau Kompakers Depok, di gedung Faculty Club Universitas Indonesia.

Yaa ampun dari sebuah foto yang terlihat simpel, ternyata di butuhkan banyak effort dan usaha yang lumayan bikin pusing kepala loh!? Gimana nggak, terdapat salah posisi dan tata letak yang walaupun cuma sedikit saja nggak pas, hasil foto nya bisa sangat nggak sesuai harapan.

Iyes, kebiasaan memfoto makanan sebelum di makan, dan membagikannya di media sosial dalah hal yang lumrah di lakukan saat ini. Apalagi ada platform media sosial instagram yang khusus berbagi foto dan di minati banyak pengguna. 

Belajar Food Fotography Bersama Komunitas Upload Kompakan Depok

Ini memberikan atmosfer baru bagi mereka yang suka foto, terutama foto makanan. Bahkan banyak makanan yang di buat bukan untuk di makan melainkan hanya untuk di foto saja. Selain itu foto-foto ini juga memberikan peluang ekonomi yang lumayan buat pembidiknya. Banyak foto makanan yang ternyata di minati dan bisa di jual untuk keperluan marketing, endorse, iklan dan lainnya

Saya adalah salah satu orang yang selalu kagum dan takjub, melihat tampilan foto-foto makanan di instagram, bukan hanya ngebayangin rasanya, yang sering saya pikirkan adalah, Wow! gimana sih ini cara fotonya.

Koq bisa ya makanan di foto sedemikian rupa, sehingga tampak sangat menggoda dan menggugah selera, ada yang di foto dadakan beneran saat makan di restaurant atau warung makan, tapi banyak pula foto yang di konsep sedemikian rupa.

Pada workshop ini terjawab deh rasa penasaran saya. Di isi oleh narasumber Rika Ekawati, spesialis food fotography, Titus O Mainassy pendiri komunitas foto dengan ponsel (Kopifon) dan mbak Noor n_f_h yang mengajarkan DIY cara membuat lighting mudah menggunakan bahan-bahan yang sederhana.

Foto yang bagus ternyata tidak selalu harus di hasilkan dari kamera mahal dengan lensa puluhan bahkan ratusan juta. Di workshop ini kami fokus belajar foto menggunakan kamera smartphone. Makanya tema workshop ini adalah bagaimana Menghasilkan Foto Keren Dengan Modal Smartphone. Smartphone yang di gunakan di sini adalah smartphone tipe terbaru dari pabrikan smartphone lokal produk asli Indonesia Advan, yang hadir dengan tipe G2.

Belajar Food Fotography Bersama Komunitas Upload Kompakan Depok

Menurut mba Rika Ekawati, kunci food fotography yang bagus adalah tegas memperhatikan detail, mulai dari properti, kualitas makanan, kesegaran, porsinya sampai cek ricek kebersihan agar foto benar-benar "clean" tak ada ceceran makanan di sekitar properti foto yang merusak estetika di foto.

Selain itu kreatif berimprovisasi, mencari angle dan memanipulasi pengambilan foto juga penting di lakukan, agar makanan terlihat natural ketika di foto, seperti misalnya saat memunculkan asap pada makanan yang di bakar, uap air, embun es atau lelehan keju dan coklat yang terlihat dramatis saat di foto.

Mendengar pemaparan mba Rika banyak banget deh printilan urusan foto yang harus di perhatikan. Jujur nih ya soal ini saya kayaknya harus banyak berlatih dan belum siap lelah ihiiyrr. Apalagi melihat totalitas para peserta saat mengambil foto, ada yang sampai naik-naik bangku, putar sana-sini duh ulala banget. Eh, tapi emang di situlah letak seninya yes. Semangat dong ah!

Belajar Food Fotography Bersama Komunitas Upload Kompakan Depok

Sedikit berbeda, Mas Titus O Mainassy, memberikan jurus yang cukup simpel dalam mengambil foto. Setiap orang bisa mengambil foto, terutama dengan  kamera handphone. Tapi menghasilkan foto yang oke dari handphone dengan kualitas gambar seperti hasil foto kamera profesional di perlukan feel tersendiri. Caranya dengan sering-sering latihan foto objek. So, smartphonenya jangan buat selfie terus ya. yaelaahh. Koq tahu aja to mas...heheh

Foto yang bagus adalah hasil dari sinergi cahaya dan fokus yang baik, waktu yang paling pas untuk mengambil foto dengan kualitas cahaya yang ideal adalah pagi hari antara pukul 9-11 siang dan sore hari antara pukul 15-17. Editing foto juga tetap di perlukan sebelum mempublish foto, ada tiga aplikasi edit foto nih yang wajib di download bagi yang suka foto, yaitu Snapseed, Adobe Lihgtroom dan Picsay Pro.

Di acara ini kami para peserta juga di ajarkan cara membuat lighting box dari bahan sederhana, lampu yang kalau beli aslinya lumayan mahal, ternyata bisa di buat sendiri. Menggunakan lampu meja belajar dan potongan karton yang di lapisi alumunium foil dengan tutup kertas minyak, waaah kreatif banget deh.

Komunitas Upload kompakan ini memang di kenal sebagai kumpulan orang-orang kreatif dalam menghasilkan foto, perkumpulan yang di khususkan untuk perempuan penyuka fotografi ini, ternyata sudah sering melakukan workshop dan pelatihan foto. 

Karena namanya Food Fotografi sudah pasti objek fotonya adalah makanan. Nah, ini seru banget loh, ternyata banyak banget makanan yang siap di makan, eh di foto di sini. Diantaranya ada cake dari Gigieat  cake dan roti-roti berbentuk lucu dari Bebelly cake

Sahabat daring tentu nggak asing ya dengan nama dua brand kue ini. Kue artis yang lagi hits di kota Depok. Tampilannya yang menggoda selera makin terlihat ketika di foto.

Dua brand kue ini adalah dua di antara kue yang di hasilkan oleh Jannah Corp, sebuah perusahaan yang mempelopori kue-kue yang bekerjasama dengan artis terkenal.

A post shared by gigieatcake (@gigieatcake) on


Dan, berkat ikut workshop ini terjawab juga nih penasaran saya sama kue-kue yang di giatkan artis-artis. Di tengah booming kue artis, belum pernah ada yang saya coba. Dari segi tekstur dan penampilan, Gigieat Cake terlihat tidak jauh berbeda dari tampilan cake pada umumnya. Nah, yang Bebelly nih yang "lucu" banget bentuknya, jadi sayang mau di makan. Berbentuk karakter kartun lucu, Bebely Cake yang kami foto berupa roti atau semacam bakpau gitu.

Dari segi rasa. Nah, ini menarik, akhirnya bisa nyicipin juga dong ya kue artis yang kekinian ini. Maklum meskipun tokonya berada di jalan Margonda yang nggak jauh dari rumah, saya belum kesampaian  berkunjung. Gigieat Cake sendiri seperti namanya pasti sudah hafal dong ya, kalau ini kue baranding dari Nagita Slavina dan Raffi Ahmad, sementara Bebelly Cake brandingnya dari artis Laudya Chintya Bella.

Ternyata, ada beberapa teman nih yang penasaran juga tanya-tanya soal rasa Gigieat Cake dan Bebelly setelah melihat foto saya yang di repost di Instagram Gigieat Cake. Unsur selera kayaknya punya poin penting di sini, apalagi banyak yang bilang rasa kue artis itu rasanya standar alias std aja sama seperti kue di toko lain.
A post shared by Nunuhalimi (@nunuhalimi) on


Soal lidah, tentu relatif ya penilaianya, ketika A bilang enak, B belum tentu setuju. Kalau saya sih indikatornya gampang aja, kalau anak-anak mau makan dan kuenya habis ya berarti enak, sesimpel itu. Apalagi anak-anak saya sebenarnya tipe-tipe yang nggak begitu suka makan kue-kuean, alhamdullillah dua box Gigieat Cake dan empat buah roti Bebelly Cake habis tak bersisa. 

Sesi belajar foto bersama Kompakers Depok ini berfaedah banget, selain dapat ilmu foto yang lumayan bikin grid foto saya agak cakepan, tapi juga bikin kenyang bertabur makana enak. Saya sendiri belum terlalu aktif bergabung di komunitas ini, tetapi melihat kekompakan dan keseruannya, komunitas ini layak banget di ikuti oleh para pecinta fotografi terutama di kota Depok. 

Kedepan sih saya yakin Kompaker Depok akan mengadakan acara serupa ini dengan tema yang berbeda, semoga bisa ikutan lagi, merasakan keseruan belajar foto bareng Kompakers Depok

Belajar Food Fotography Bersama Komunitas Upload Kompakan Depok






No comments

Terimakasih sudah berkunjung, apalagi sampai mau komen, duh saya happy banget, semoga tulisan saya bermanfaat... saya mungkin tidak selalu bisa menjawab komentar, tapi saya usahakan untuk berkunjung balik, jika ada pertanyaan sila hubungi saya by email, dan maaf yah....! Untuk yang memberi komen dengan link hidup akan saya delete. Terimakasih.