Cara Efektif Mengelola Keuangan Rumah Tangga Dan Usaha

Tidak peduli seberapa banyak, apalagi kecil, uang yang di hasilkan selalu habis. Seperti uap dan  angin, antara ada dan tiada, uang seperti sesuatu yang gaib, tekadang bisa di rasakan tapi wujudnya tidak terlihat. Duh! tadi belanja apa aja ya! Koq nggak jelas, uang di dompet menipis? Kemudian cek ATM, lalu berasa hampa, karena setelah itu kepikiran kemana saja perginya uang-uang itu? 

Haha, berasa curcol ya! Sahabat daring, ibu-ibu, mamah-mamah ya terutama, ada yang seperti itu jugakah? Toss dulu deh! 

Atau ada yang seperti ini? Ketika bicara tentang uang, cuma numpang lewat saja. Seperti nonton sinetron yang di ulang-ulang dengan inti cerita yang sama, begitu aja terus, endingnya adalah misteri, entah akan seperti apa.

Setiap akhir bulan, bertanya-tanya apa yang terjadi dengan semua kerja keras selama ini, merasa tertekan, menarik nafas panjang, bahkan terasa sesak di dada jika sudah membayangkan tentang uang. Koq, begini-begini saja, bawaanya deg-degan saat mengalami keadaan darurat. Tabungan nggak punya, asuransi nggak ada, mau ini nggak kebeli, itu nggak kebeli, jalan-jalan cuma mimpi.  Ulala banget, ya nggak sih?!

Cara Efektif Mengelola Keuangan Rumah Tangga Dan Usaha


Terlebih setelah semua usaha di lakukan, hemat sana-sini, menahan diri mau beli ini, itu, nanti! Tunda dulu. Sudah banyak sabar tapi hasilnya tetap zonk! 

Loh! kan katanya hemat pangkal kaya? Tapi kalau menghemat terus tetap nggak ada perubahan, hayati lelah yaa!? 

Bijak Mengelola Keuangan

Berhemat ternyata tidak sepenuhnya memecahkan persoalan keuangan. Banyak orang terjebak persoalan keuangan, lalu kemudian memilih berhemat, berharap semua permasalahan bisa selesai padahal cara berhemat yang dilakukan sudah tidak efektif pada kondisi yang di alami.

Jika sudah seperti ini, lalu di mana inti permasalahannya? Jawabannya, ada pada ketidak bijakkan dalam mengelola keuangan.

Cara Efektif Mengelola Keuangan Rumah Tangga Dan Usaha

#IbuBerbagiBijak, Literasi Keuangan Untuk Ibu Agar Menjadi Bijak  Dalam Mengelola Keuangan

Bersama perusahaan teknologi pembayaran global PT. Visa Worldwide Indonesia, tanggal 30 Agustus 2018 lalu saya menghadiri sebuah workshop, yang merupakan bagian dari kampanye Literasi Keuangan #IbuBerbagiBijak yang di gelar untuk mengedukasi dan mendorong para perempuan khususnya ibu-ibu agar mampu mengelola keuangan dengan bijak.

Kampanye Ibu Berbagi Bijak ini berlangsung sejak bulan Juni 2017 yang bisa akses melalui media sosial salah satunya di instagram lewat akun @ibuberbagibijak. Selain itu kampanye ini juga melakukan serangkaian acara workshop langsung yang menghadirkan pakar finansial ternama, untuk mengajarkan para ibu, perempuan Indonesia agar mampu mengelola keuangan dengan bijak.


Dalam kampanye ini juga VISA  menghadirkan sejumlah perempuan wirausaha yang berbagi kisah sukses dalam mengelola keuangan dan menjalankan usaha, agar menjadi inspirasi dan motivasi bagi ibu-ibu lainnya untuk mulai berpikir maju dan berani mengambil langkah menjadi wirausaha.

Lewat program ini di harapkan ibu-ibu juga bisa berbagi pengetahuan, mengajarkan kembali  kepada anggota keluarga dan lingkungan. Kalaupun tidak, ya minimal berbagi  kepada anak-anaknya untuk mulai memahami literasi keuangan yang benar. Acara workshop ini adalah kolaborasi VISA dengan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) yang telah menjangkau lebih dari 200.000 perempuan di Indonesia.

Workshop kali ini menghadirkan Prita Hapsari Ghozie, beliau adalah seorang financial planner, dosen, public speaker yang juga penulis terkenal yang berbagi ilmu, tips dan trik untuk ibu-ibu agar bijak mengelola keuangan, serta ada juga Gladies Rahman, founder @dapurgladies wirausaha produsen brownis legit dan aneka kue.

Cara Efektif Mengelola Keuangan Rumah Tangga Dan Usaha

Bertempat di RPTRA Pasir Ciganjur, acara ini juga di hadiri oleh ibu-ibu dari HIMPAUDI (Himpunan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini) Kecamatan Jagakarsa. Oiya, ini adalah pengalaman tersendiri bagi saya, karena untuk pertama kalinya main-main ke RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak)

Cara Efektif Mengelola Keuangan Rumah Tangga Dan Usaha

Di tempat ini saya bersama para ibu-ibu mendengarkan pemaparan penting tentang kiat mengatur uang, dan mencari tahu bagaimana caranya ibu bisa mendapatkan penghasilan tambahan, membangun dan mengelola usaha, menjadi wirausaha atau womanpreneur.

Ternyata Tidak Banyak Ibu-ibu Yang Pintar Mengelola Keuangan

Membaca kalimat di atas bikin deg nggak sih?! Tapi itulah faktanya. Yup, membuka sesi pembahasan, acara ini juga di hadiri oleh ibu Adhe Hapsari, Head Of Corporate Communication PT Visa Worlwide Indonesia, yang mengungkap bahwa menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tingkat pengetahuan, literasi keuangan perempuan Indonesia terbilang masih sangat rendah, jumlahnya hanya 25,5% saja, gapnya cukup tinggi jika di bandingkan laki-laki yang memiliki 66,2% pemahaman literasi keuangan.

Cara Efektif Mengelola Keuangan Rumah Tangga Dan Usaha

Padahal perempuan terutama ibu-ibu, bisa di bilang bendahara, manajer atau menteri keuangan dalam rumah tangga. Dengan tingkat literasi yang rendah seperti ini tidak mengherankan jika kemudian banyak terjadi kasus yang melibatkan uang sebagai pokok masalah dalam rumah tangga.

Ya, faktanya memang banyak terjadi perbedaan dan selisih paham dalam pengelolaan uang, yang semestinya tidak terjadi. Ada yang dominan tidak terarah, namun ada juga yang tidak berdaya dan tersisihkan jika sudah bicara uang di dalam rumah tangga.

Ada ibu sering merasa tidak leluasa mengatur uang, atau bingung mengatur uang pas-pasan. Deg-degan ketika klakson kurir antar barang online shop datang, ngumpet-ngumpet belanja takut ketahuan suami, atau diam-diam memiliki simpanan uang yang di rahasiakan. Nah, koq jadi menegangkan gitu yaa! Padahal uang seharusnya mempersatukan.

Menurut mba Prita Ghozie, sebelum ibu bijak mengelola keuangan hal utama yang harus di lakukan adalah komunikasi dengan pasangan. Proses ini seringkali tidak mudah, karena masing-masing individu punya latar belakang berbeda soal pemahaman dan tata kelola uang, namun ketika sudah berumah tangga, maka mau tidak mau, wajib membahas uang. Suami dan isteri harus memiliki satu suara mengenai bagaimana mendapatkan uang, dan akan seperti  apa keuangan rumah tangga di kelola.

Suami isteri juga harus berbagi dan paham perannya. Siapa mencari nafkah, siapa mengatur uang, di simpan di mana, bagaimana mencari tambahan, apakah ibu boleh bekerja, kalau tidak bekerja sejauh apa peran dalam urusan uang, bagaimana melunasi daftar tagihan ini, itu, kebutuhan harian, sekolah anak, dan lain-lain, termasuk bagaimana uang dalam kaitannya dengan hubungan keluarga, mertua, adik-adik ipar dan saudara, semua perlu di bicarakan.

Masing-masing juga harus memiliki aturan dan prinsip bersama. Bicara jujur, transparan tentang uang. Pemasukkan, pengeluaran, hutang, semua tentang keuangan pribadi di sampaikan, sehingga bisa merancang tujuan keuangan bersama.

Wah, ini saya yakin banyak story yaa!? Soalnya merasakan sendiri dan mendengar cerita beberapa teman, betapa berat tantangan dan sulitnya komunikasi dalam menyatukan visi soal uang bersama pasangan. Tetapi, tak ada yang tak bisa di hadapi, apalagi ini untuk kebaikan dan masa depan bersama. Jika sudah bisa satu visi bersama pasangan, insha Allah semua permasalahan keuangan bisa di lalui dengan baik.

Kesehatan Keuangan Dan Kondisi Keuangan Ideal

Memiliki rumah tangga dengan kondisi keuangan ideal tentunya goals banget yaa. Menurut Mba Prita Ghozie dalam proses mencapai tujuan keuangan ideal, ada beberapa tahap yang harus di lakukan:

1. Financial check-up/ Periksa kondisi kesehatan keuangan. Jadi bukan kondisi kesehatan badan saja yang harus di periksa. Keuangan juga perlu di periksa, apakah agak sedikit 'flu atau panas' Salah satu indikasi keuangan yang sehat adalah:

a. Adanya pemasukkan rutin, atau ada harapan mendapatkan uang entah dari gaji, proyek, komisi, fee, dan lain-lain.
b. Kerennya tidak memiliki hutang, namun jika ada, maka total nominal pembayaran cicilan masih di bawah  30% penghasilan.
d. Hutang yang di miliki adalah hutang produktif bukan hutang konsumtif
e. Memiliki tabungan, investasi, emas dan lain-lain
f. Memiliki dana darurat

2. Mengelola Arus Kas

Setelah mengetahui kondisi kesehatan keuangan, maka selanjutnya kita bisa mengelola keuangan. Namun jika ternyata kondisi keuangan sedang sakit, misalnya terlalu banyak hutang, atau terkena masalah lain, maka yang harus di lakukan adalah menetapkan prioritas menyembukan sakit keuangan terlebih dahulu.

Mengelola arus kas merupakan salah satu hal penting. Dengan arus kas yang baik, ibu dapat dapat dengan mudah membuat dan menentukan strategi untuk mengatur keuangan, mana-mana pos pengeluaran yang perlu dan tidak perlu.

Dalam mengelola arus kas, ada bebarapa kiat yang bisa di laukan ibu agar lebih efektif.
  • Biasakan cashless, tidak banyak sedia uang tunai. Beruntungnya kita hidup di era digital, persoalan cashless bisa terpecahkan dengan adanya kartu debit, beragam aplikasi fintech atau berbagai macam bentuk e-money. Cara-cara ini membuat catatan keuangan bisa terekam dengan mudah dan biasanya kita juga jadi malas spending kalau tidak memegang uang tunai
  • Rajin mencatat keluar dan masuknya uang, menghitung bon, kwitansi, kalkulasi per minggu, per dua minggu atau perbulan. 
  • Menabung di awal, bukan di akhir dengan uang sisa pengeluaran.
  • Membagi pos pengeluaran berdasarkan persentase: 
  1. Zakat, infaq, sedekah 5% dari penghasilan
  2. Biaya hidup/biaya kehidupan sehari-hari tidak lebih dari 30% setiap bulan, apabila tanpa hutang bisa 50% 
  3. Cicilan hutang 30%
  4. Gaya hidup 10%
  5. Investasi, tabungan, dan dana darurat 15%
Jika sudah bisa mengelola arus kas dengan baik. Maka tahapan selanjutnya adalah,

3. Merencanakan keuangan.

Merencanakan keuangan cakupannya sangat luas bukan sekadar menambahkan, membagi pengeluaran atau mengurangkan atau merencanakan ini itu. Tetapi juga menghitung anggaran, berapapun nilainya dan berapa banyak di habiskan, terutama jika memiliki punya tujuan besar dan jangka panjang seperti membeli tanah, membangun rumah, renovasi rumah, melunasi hutang, beli kendaraan, biaya anak masuk sekolah, kuliah dan, lain-lain.

Ibu Belajar Bisnis Dan Menjadi Wirausaha, Yuk!?

Melihat daftar pengeluaran yang panjang, dengan daftar pemasukkan yang tidak seimbang, siapa ibu-ibu yang tidak pusing yaa. Daripada mengeluh penghasilan yang mepet, bingung mengaturnya. Salah satu cara yang bisa di lakukan ibu-ibu adalah mulai memikirkan ide-ide untuk berbisnis sendiri.

Membantu suami, syukur-syukur bisa membangun kerajaan bisnis, lewat wirausaha. Wah ini, saya rasa banyak ibu berpikiran ke arah sana, tapi mewujudkannya tentu bukan hal mudah. Lalu, bagaimana caranya ya?

Menurut mba Prita Ghozie, membuka usaha sebenarnya buka hal yang terlalu sulit, terlebih untuk ibu-ibu. Selalu ada peluang usaha yang bisa di lakukan. Kunci utama untuk bisa berwirausaha adalah peka terhadap peluang dan siap mengambil peluang tersebut.

Mudah membuka usaha, tetapi tidak mudah mengelola usaha terus berjalan. Inilah persoalan utama ibu-ibu ketika menjalankan usaha. Dan kembali lagi akar permasalahan ada pada literasi keuangan yang kurang. Ibu-ibu banyak gagal dalam berwirausaha, padahal jika di hitung ulang hal tersebut seharusnya tidak terjadi. Bisnisnya menguntungkan dan memiliki prospek bagus. Namun akibat salah kelola uang, akhirnya menjadi staknan dan bahkan tutup.

Hmm, ini persis pengalaman saya yang beberapa tahun lalu pernah membuka usaha tapi akhirnya tidak saya teruskan. Saya sadar memang usaha saat itu redup karena faktor tata kelola uang yang tidak tepat.

Cara Efektif Mengelola Keuangan Rumah Tangga Dan Usaha

Salah satu figur ibu sukses berwirausaha adalah Mba Gladies Rahman, beliau menuturkan pengalamannya membuka usaha. Berbisnis brownies lewat @dapurgladies. Bermula dari hobinya baking membuat kue @dapurgladies kini menjadi salah satu brand brownis yang sudah di kenal luas.

Cara Efektif Mengelola Keuangan Rumah Tangga Dan Usaha

Dan memang, hobi atau melakukan sesuatu yang di sukai bisa menjadi salah satu cara bagi ibu untuk memulai wirausaha. Memulai usaha juga bisa di mulai dari rumah, seperti mba Gladies yang menjadikan hobi baking dan dapurnya sebagai modal berwirausaha.

A post shared by Dapur Gladies Indonesia (@dapurgladiesid) on

Untuk berada di tahap sekarang tentu tak mudah, banyak tantangan telah di laluinya dari mulai yang mudah sampai yang berat. Ada beberapa tips yang di berikan oleh mba Gladies kepada ibu-ibu jika ingin memulai wirausaha, yaitu:

1. Siap mental, tahan banting, optimis dan ikhlas bekerja di bawah tekanan, apalagi ketika akan memulai, biasanya banyak suara sumbang, nyinyir dan pesimis yang malah datang dari lingkungan terdekat. Untuk wirausaha yang benar-benar jalan sendiri maka  harus siap juga ketika berhadapan langsung dengan customer yang bukan hanya membeli namun mereka ada yang komplain, protes kurang ini itu dan lain-lain Harus siap mental juga bagaimana menghadapi pemasok barang, mencari bahan baku, negosiasi, termasuk berhadapan dengan pegawai jika nanti mulai merekrut pegawai.

2. Usaha bisa dengan modal berapa saja, tanpa modal pun banyak peluang usaha bisa di lakukan. Jika masih di kerjakan sendiri, targetkan untuk bisa mulai merekrut orang atau membangun teamwork saat pemasukkan atau orderan meningkat dan terasa stabil. Bisa dengan tenaga kerja full time, freelance atau asisten yang bisa di perbantukan. Dengan begitu kita bisa lebih fokus mengembangkan usaha

3. Siap bekerja lebih tanpa kenal waktu, banyak yang bilang saat menjadi bos untuk usaha sendiri semua serba mudah, ena-ena, tinggal duduk manis uang datang. Eitsss! Tunggu dulu. ini hoax. Nyatanya ketika memutuskan untuk wirausaha. Waktu, tenaga, biaya yang kita keluarkan bisa berlipat-lipat dari pekerja. Begadang tidak cukup satu malam, memastikan semua on process, sesuai SOP, quality control dan lain-lain.

3. Siap tidak terima gaji, mba Gladies sendiri menunggu tiga bulan untuk dirinya sendiri mendapatkan gaji dari usahanya. Pada awal usaha semua effort, tenaga, waktu dan biaya habis untuk belanja modal operasional dan gaji pegawai. Sebagai pemilik usaha tidak terlalu dulu memikirkan profit, tetapi bagaimana menaikkan value dari produk yang di tawarkan.

4. Memisahkan keuangan usaha dengan keuangan rumah tangga dan keuangan pribadi menggunakan rekening terpisah. Catat arus keuangan secara detail pemasukkan, pengeluaran, pembayaran, pembelian dengan rapi.

5. Sisihkan dana cadangan untuk pengembangan usaha, pembelian alat baru, upgarade ilmu dengan pelatihan, ikut workshop dan lain-lain 

Mendengar pemaparan mba Gladies, saya jadi terinspirasi dan termotivasi untuk kembali memulai usaha. Apalagi Indonesia masih butuh banyak wirausaha baru, peluang masih sangat terbuka lebar bagi ibu-ibu untuk mulai usaha. Dengan memahami literasi keuangan dan menjadi bijak mengelola keuangan, usaha insha Allah bisa berjalan lancar, keuangan rumah tangga aman, bisa bernafas lega saat gajian dan mau have fun mau belanja apa aja yaa buu.




11 comments

  1. Ngomongin keuangan keluarga atau mengatur uang, akan sll menjadi hal menarik dan bikin geleng geleng kepala layaknya berdisko hahaha. Kemampuan seorang ibu rumah tangga dlm mengatur keuangan keluarga sebenarnya tergantung pada kedisiplinan dan kecekatan dlm melihat mana yg masuk kebutuhan dan keinginan. Perlu latihan juga sih klo mnrt aku mah.Jgn sampai sekali gagal mengatur laju uang keluar masuk eh ngga mau nyoba lagi. Emang sih ini hal klasik yg jadi PR bgt wkwkwk. Semangaaat Ibu Berbagi Bijak

    ReplyDelete
  2. Acaranya seru dan ilmu yang diberikan memang paten ya.

    Pengalamanku sebagai IRT, memang penting banget ilmu mengelola keuangan begini....

    ReplyDelete
  3. Ini kok kayak nyindir aku banget ya, haha... Masih sembarangan aja kelola keuangan. Apalagi uang usaha, suka kecampur2 sama uang pribadi dari pendapatan lainnya, ujungnya suka bingung bikin laporan keuangan huhu... Tfs mba, ilmunya keren banget

    ReplyDelete
  4. Halo mba Nunu. Bulan ini aku lahi ngalamin kenapa ya duit bulanan agak menipis padahal belum waktunya? Jadi sebel banget. Bulan lalu aku catat pengeluaranku di aplikasi HP. Ini agak kedodoran. Aku coba atur keuangan lagi ah. Makasih ya mba

    ReplyDelete
  5. Ini dia kok bisa kayal aku ya... mengelola keuangan itu susah2 gampang tapi banyak susahnya wkwkwk... kadang demen banget tiba2 ada uang nyelip di dompet hihihi �� Betul juga usahakan cashless ya jd ga ada tuh kembalian belanja supermarket yg menguap gitu aja buat jajan2 ga jelas. Langsung deh bongkar catatan kas akuh ��

    ReplyDelete
  6. Memisahkan dengan pos posnya masing masing bikin aman nyaman ya keuangan pribadi atau bisnis kita

    ReplyDelete
  7. Enggak mudah ya mba kelola keuangan keluarga sama usaha, butuh perjuangan ahahaha.
    Aku lagi mikir-mikir buat usaha juga

    ReplyDelete
  8. Terimakasih ya tips sharingnya, keuanganku masih flu nih, berantakan, perlu banyak yg dibenahi

    ReplyDelete
  9. Ini ilmunya sangat bermanfaat deh. Keuangan rmh tangga terkendal, suami istri pun senang

    ReplyDelete
  10. seneng banget melihat buebu banyak yg hadir di acara tsb apalagi mereka perwakilan dari HIMPAUDI, jadi setelah ikutan eventnya nanti buebu HIMPAUDI bisa menyebarkan info soal pengelolaan keuangan rumah tangga ke wali murid2

    ReplyDelete
  11. Wah,penting banget ini, Nu. Secara kelemahan IRT yang punya usaha itu seriiing banget bocor halus kepake di urusan rumah ya. Padahal itu sumber kacaunya management keuangan

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung, apalagi sampai mau komen, duh saya happy banget, semoga tulisan saya bermanfaat... saya mungkin tidak selalu bisa menjawab komentar, tapi saya usahakan untuk berkunjung balik, jika ada pertanyaan sila hubungi saya by email, dan maaf yah....! Untuk yang memberi komen dengan link hidup akan saya delete. Terimakasih.