Hubungan saya dengan ibu atau yang biasa saya sapa emak, bisa di bilang tidak terlalu hangat, kami memiliki hubungan yang baik tetapi tidak terlalu dekat. Sependek ingatan saya, yang menghabiskan waktu bersama emak sampai usia 20 tahun, menikah dan hidup terpisah, kami jarang sekali berbincang .

Emak juga hampir nggak pernah nasehatin saya sebagai anak perempuan sampai segimananya. Tidak ada satu kata pun darinya yang bisa saya jadikan wejangan, yaa sedura itu hubungan saya dengan Emak.


Kondisi yang kemudian ketika punya anak baru bisa saya pahami.

Memiliki dan mengasuh tujuh anak yang jarak usianya turun tangga, dan semua di urus sendiri, saya jadi terbayang bagaimana beliau dahulu kepayahan mengurus anak-anaknya, hingga tak sempat membangun komunikasi dengan anak-anaknya.

Hubungan ibu dengan anak perempuan katanya adalah sesuatu yang kompleks dan beragam. Beberapa ibu dan anak perempuan bisa menjadi teman baik, atau sering berdebat. Tetapi dalam hubungan saya dengan emak ya datar aja. Mungkin karena sebagai orangtua zaman dahulu kali yaa, skill komunikasinya dengan anak sulit berkembang. Sesuatu yang kemudian memacu saya untuk berusaha terus belajar membangun komunikasi dengan anak secara intens.

Tetapi, pada akhirnya saya meyakini seperti apapun hubungan kita dengan ibu, kita akan menemukan sebuah titik yang menyadarkan bahwa berkat ibulah kita berada di duni. Walaupun tanpa kata, ibu tetaplah sosok yang paling peduli pada anak-anaknya

Setiap keluarga adalah adalah sekumpulan tas dan kantong yang didalamnya ada campuran baik, buruk dan jelek. Suka, duka, susah, senang adalah hal yang tidak dapat terpisahkan, pernah dan atau akan terus dilalui bersama. Pun dengan ibu, karena baginya kita akan selalu jadi anak.

Setiap kita adalah anak

Setua apapun usia kita, status sebagai anak akan terus melekat dalam diri. Daan, sekeras apapun kita berusaha, takkan ada satupun dari kita yang sanggup membayar balik segala pengorbanan dan perjuangan mereka, terlebih ibu.

Dan, sebagai anak sering banget ya kita memikirkan bagaimana cara untuk membalas dan membuatnya bahagia, meskipun buat seorang ibu hal itu tidaklah penting. Kebahagiaan anak adalah hal yang lebih utama buat ibu.

Namun ada banyak cara untuk menunjukkan kepada ibu perhatian kita. Salah satunya dengan mengajaknya traveling, jalan-jalan. Tapi jalan-jalannya hanya berdua saja!

Bersyukur sekali saya mendapat kesempatan ituketika bulan juli lalu saya mendapatkan hadiah jalan-jalan ke Bali sebagai hadiah kompetisi foto Instagram dari Indihome. Oiya ini pengalaman yang berkesan banget, karena saya belum pernah saya mendaptkan hadiah sebesar ini.

Semakin menyenangkan karena saya ternyata boleh mengajak satu pendamping dalam jalan-jalan ini. Awalnya ingin mengajak paksuami, tetapi setelah dipikir-pikir, mengapa tidak saya mengajak emak saja. Emak belum pernah ke Bali, bahkan belum pernah naik pesawat terbang. Sudah lama juga saya kepikiran ingin sekali mengajak emak kemana gitu, tapi selalu terbentur berbagai alasan, mungkin ini memang jalannya saya bisa mengajak beliau jalan-jalan.

Kenapa Kita Harus Luangkan Waktu Bepergian (hanya) Berdua dengan Ibu

Akhirnya untuk pertamakalinya saya jalan-jalan hanya berdua dengan emak. Etapi seingat saya dulu sekali saya pernah jalan bareng, puluhan tahun lalu selepas saya ambil raport zaman SMA. Perginya kepasar.

Kami sebenarnya pernah jalan-jalan tetapi selalu bersama keluarga, anak-anak saya, atau keluarga besar kami. Itupun paling jauh ke kawasan Puncak.

Bepergian hanya berdua saja dengan emak, ternyata menjadi kesempatan untuk mengenal emak. Bukan sebatas sebagai ibu, tapi jadi melihat lebih banyak tentang kepribadian emak.

Mengingat raut wajah bahagianya sejak saat memasuki bandara Soekarno-Hatta, hingga naik pesawat tidak akan saya lupakan. Belum lagi setibanya di Bali, menginap di hotel, menikmati makanan dan menjalani semua itinerary

Pengalaman jalan hanya dengan emak ini membuat saya merasa Kenapa sebagai anak sebaiknya luangkan waktu juga bepergian hanya dengan Ibu.

Yup, Alih-alih lebih senang jalan dengan pasangan, anak-anak, atau teman kantor. Jalan-jalan hanya berdua dengan ibu banyak memberi perpektif baru tentang ibu dan hidupnya, diantaranya:


  1. Ibu kita semakin tua, semakin sedikit kesempatan untuk kita membahagiakannya, menyenangkan nya
  2. Ibu tidak selemah kelihatannya, percaya deh walaupun sudah berumur, ketika di ajak jalan-jalan ibu akan senang dan semangat sekali, staminanya bahkan mengalahkan yang muda-muda, jadi tidak perlu khawatir akan repot
  3. Sangat menikmati dan menghargai perjalanan, apa yang terlihat biasa saja, buat ibu adalah sesuatu yang menarik
  4. Mengenalnya lebih intens, saya paham kenapa beliau tidak terlalu banyak bicara, karena menurutnya sejak kecil saya mandiri, jadi tidak perlu di omongin banyak sudah paham
  5. 5. Jadi punya banyak kenangan, yes walaupun baru sekali, sekarang saya punya banyak kenangan tentang emak. Foto-foto dan videonya tersimpan dalam kamera dan hati saya.

Diatas semuanya saya merasakan kalau jalan-jalan hanya berdua dengan ibu, bisa banget jadi cara yang sempurna untuk kita mengungkapkan rasa terima kasih kepadanya, karena telah melakukan pekerjaan luar biasa dalam membesarkan anak, yang tidak mudah. Dan, berkat curahan waktu, energi, uang, dan cinta darinya membawa kita ke tempat hari ini.

Meski tidak berharap mendapatkan yang hangat antara ibu dan anak perempuan, setidaknya kami jadi mengenal lagi stu sama lain. Setelah ini saya berharap banget bisa mengajak emak ke destinasi lain, dan tentu saja ke impian terbesarnya, berangkat umroh. Bismillah semoga ada jalan dan kesempatan.

0 comments

Add your comment

Terimakasih sudah berkunjung, apalagi sampai mau komen, duh saya happy banget, semoga tulisan saya bermanfaat... saya mungkin tidak selalu bisa menjawab komentar, tapi saya usahakan untuk berkunjung balik, jika ada pertanyaan sila hubungi saya by email, dan maaf yah....! Untuk yang memberi komen dengan link hidup akan saya delete. Terimakasih.

© Nunu Halimi ·