Semangat Bangun disiplin Kebiasaan Baru agar Covid-19 Ambyar



Membangun disiplin sudah sejak lama menjadi issue penting di negara kita. Menjadi hal biasa jika kita sering membandingkan kedisiplinan dengan negara-negara seperti Jepang atau Korea Selatan. Dan, sad but true, harus di akui dalam hal disiplin, kita masih jauh tertinggal.

Lalu, bagaimana disiplin ditengah kondisi saat ini, dimana kita wajib menerapkan protokol kesehatan, membiasakan diri dengan kebiasaan baru atau new normal?

Adakah harapan untuk perubahan ke arah yang benar saat kita beradaptasi dengan kehidupan normal baru di masa Covid-19 ini?
Pertanyaan seperti ini sering terbersit di benak Saya, terlebih ketika ke luar rumah, di jalan atau di tempat umum, Saya bertemu orang-orang yang dengan santainya tidak menggunakan masker atau berkumpul tanpa menjaga jarak.

Nah, sebenarnya sejauh mana ya penerapan soal disiplin, khususnya penerapan disiplin dalam semangat menerapkan protokol kesehatan di masa pandemi ini? 

Hari Rabu, tanggal 30 September lalu, saya berkesempatan mengikuti seminar Online Bareng Blogger yang bertema “Yuuk Disiplin COVID-19 Ambyar”

Diselenggarakan oleh Direktorat Promosi Kesehatan Masyarakat (Ditpromkes) Kementerian Kesehatan RI acara seminar online ini diakses melalui zoom dan Youtube Live. 

Seminar online ini dibuka oleh Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan  Masyarakat, dr. Riskiyana S. Putra, M.Kes yang memaparkan update isu/kondisi Covid-19 dan menekankan  pentingnya peran blogger dalam membantu menyebarkan informasi kesehatan terkait  pencegahan dan pengendalian Covid-19.



Berupaya terus meningkatkan cara menghadapi pandemi ini dengan meningkatkan pengujian, penanganan yang komprehensif, dan perawatan bagi mereka yang sakit, adalah tanggung jawab pemerintah yang tak terhindarkan selama pandemi ini. 

Namun, kita di persimpangan. Memilih antara menyelamatkan ekonomi atau kesehatan masyarakat, keduanya sama krusial.

Untuk itulah terus diupayakan berbagai metode pencegahan demi mendorong sebanyak mungkin masyarakat mendapatkan dan membagikan informasi yang benar. 

Pemerintah juga berupaya meningkatkan literasi melalui diseminasi  informasi positif kepada seluruh lapisan masyarakat untuk dapat mengikuti protokol  kesehatan dan beradaptasi dengan kebiasaan hidup baru.

Karena ancaman gelombang Covid 19 masih terus mengintai, sangat besar harapan jika kita bisa mengatasi kondisi ini secepat dan semaksimal mungkin. Harapan ini tentunya hanya akan bisa terwujud dengan usaha bersama segenap lapisan masyarakat.

Terkait penerapan disiplin, di acara seminar online ini, hadir juga, Dr. Rose Mini Agus Salim, M.Psi. atau akrab dipanggil Bunda Romi yang memaparkan upaya membangun disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan. 

Penerapan protokol kesehatan menjadi kunci pengendalian penularan Covid-19. Dari sisi masyarakat, hal ini membutuhkan kepatuhan untuk tertib dalam bermasker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. 

Disiplin adalah hasil proses belajar

Siapa yang sejak pandemi jadi terbiasa menggunakan masker?

Yup, penggunaan masker sebagai salah satu langkah protokol kesehatan menjadi kebiasaan baru yang banyak dikeluhkan seiring persebaran Covid 19. 

Banyak alasan dikemukakan ketika seseorang menolak menggunakan masker, dari rasa tidak nyaman, susah bernafas (eungap) dan mengurangi penampilan.

Dan, menurut hasil Survey Online Humaniora Puslitbangkes hingga saat ini memang penerapan protokol kesehatan  masih belum seratus persen dijalankan.
  •  93,40% menggunakan masker 
  • 1,20% tidak menggunakan alat pelindung 
  • 54,29% selalu jaga jarak (31,92% menyatakan sering ; 12,42% kadang-kadang dan sisaanya 1,37% menyatakan jarang/tidak pernah) 
  •  91,67% menyatakan mencuci tangan dengan sabun.

Mengapa belum semua orang menerapkan kebiasaan disiplin protokol kesehatan?

Karena membangun disiplin selalu diawali dengan ketidaknyamanan, mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru butuh proses.

Bunda Romi menuturkan, jika disiplin adalah perilaku hasil dari proses belajar, membangun kebiasaan dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya, faktor
Kognitif, Afektif dan Psikomotor, setelah itu membutuhkan latihan serta pengulangan, baru kemudian bisa membentuk kebiasaan.

Disiplin diri berarti pengendalian diri dalam melakukan apa yang benar dan perlu dilakukan, berasal dari dalam diri, penuh kesadaran dan tanpa paksaaan. 

Lalu, bagaimana cara mengubah perilaku yang tidak biasa menjadi biasa?

Bunda Romi menambahkan, jika membentuk kebiasaan erat kaitannya dengan nilai moral, dengan nilai ini seseorang dapat membedakan baik dan buruk. 
Dari anak balita sampai yang sudah berusia lanjut harus sudah diajarkan soal ini.

Moral virtue adalah hasil dari kebiasaan atau habit dan merupakan bagian dari karakter. 

Keluarga menjadi lingkup pertama dalam pembentukan Moral Virtue yang menyangkut 7 aspek essensial yaitu:
  • Empati (Empathy), kemampuan memahami perasaan orang lain
  • Hati nurani (Consecience) kemampuan mendengarkan suara hati yang menyuarakan mana benar dan salah
  • Kontrol diri (Self Control) kemampuan mengendalikan dorongan dan berpikir sebelum bertindak
  • Menghargai (Respect) kemampuan dan kemauan menganggap orang lain sama berharganya dengan dirinya
  • Kebaikan (Kindness) perhatian terhadap kesejahteraan orang lain
  • Tenggang rasa (Tolerance) penghargaan terhadap perbedaan kualitas tiap individu
  • keadilan (Fairness) kemampuan memperlakukan orang lain secara layak, obyektif, adil, dan tidak memihak.
Selain itu, banyak faktor lain yang mempengaruhi seseorang untuk berdisiplin.

Lingkungan, figur teladan, reward (penghargaan) dan punishment (hukuman) juga faktor besar dalam membentuk kedisiplinan.

Namun, pada intinya, dalam hal disiplin, terutama saat ini, kita harus disiplin melakukan apa yang benar dan baik untuk semua.  

Mau tidak mau, harus menerima, suka atau tidak suka harus dijalani, siap nggak siap harus beradaptasi. Ya, karena inilah kita saat ini, berhadapan dengan realita. Berdampingan dengan Covid 19.

Selain individu, pandemi Covid 19, juga harus diikuti dalam disiplin dalam kelompok. Bagaimana menyiasati pembatasan sosial? 

Bagi sebuah komunitas tentu ini bukan hal mudah. Dalam seminar online ini hadir Kak Wardah Fajri yang berbagi pendapatnya soal ini.




Peran Komunitas Blogger di Era Pandemi Disiplin Protokol Kesehatan dan Adaptasi Kebiasaan Baru

Nama Kak Wardah Fajri atau yang biasa di sapa Kak Wawa, nama yang tidak asing dikalangan blogger. Beliau adalah salah satu founder, fasilitator dan mentor dari Komunitas Bloggercrony.

Dengan moto, Blogging, Networking, Empowering dalam kesempatan ini Kak Wawa menceritakan bagaimana Bloggercrony sebagai sebuah komunitas menghadapi situasi pandemi Covid 19.

Menurut Kak Wawa, Stay Connected atau tetap terhubung ditengah pembatasan sosial menjadi salah satu upaya yang dilakukan Bloggercrony sejak pandemi Covid 19 merebak.

Komunitas sejatinya memang tidak hanya tentang kedekatan secara geografis atau karena satu dua kesamaan, tapi lebih dari itu, ini adalah tentang bagaimana kita merasa terhubung dengan yang lain juga tentang merasa terhubung dan bertanggung jawab pada apa yang sedang terjadi. 

Kebersamaan juga menjadi prinsip dalam berkomunitas, dan setiap anggota memiliki peran penting.

Bloggercrony juga menjadi menjadi fasilitator blogger, dalam mengedukasi anggota komunitas untuk menyebarkan pesan positif yang mendukung pro-kesehatan gerakan nasional.

Melakukan gerakan donasi untuk teman-teman blogger yang terdampak Covid 19, pemberian masker gratis, mendukung gerakan #SelaluPakaiMasker di media sosial, aktivasi gerakan pedagang pakai masker, juga menyelenggarakan event virtual untuk saling menguatkan baik kesehatan fisik juga kesehatan mental, adalah beberapa kegiatan yang juga dilakukan Bloggercrony.



Covid-19 membuka mata, betapa kita manusia makhluk yang saling ketergantungan.

Bergandengan tangan, bersinergi, saling support, sesimple bertanya kabarpun menjadi sangat berarti. 

Ditengah keterkaitan yang meningkat ini, Saya juga tersentuh oleh upaya yang dilakukan Bloggercrony yang secara kolektif memberi pelajaran, bahwa tidak ada krisis yang sia-sia, selalu ada hikmah yang bisa kita petik.

Sekecil apapun, kita semua punya peran. Disiplin menjalankan protokol kesehatan adalah bagian dari kontribusi kita sebagai warga negara. 

Disiplin menjalankan protokol kesehatan juga harga mati, tidak ada tawar menawar, Covid 19 ini momentum untuk melatih disiplin pengendalian diri kita, kita dapat belajar untuk memperkuatnya dengan kesadaran diri, motivasi, pola pikir yang benar, dan kemauan yang besar. 

Karena semua upaya ini dapat membantu kita menuju impian besar kita semua, yaitu bebas dari Covid 19. 

Yuuk! Sama-sama kita semangat bangun disiplin kebiasaan baru agar Covid 19 Ambyar!


           

Write a comment