Bulan Juli kemarin tahun ajaran baru di mulai, anak-anak sudah memulai lagi aktifitas di sekolah. Seperti biasa setiap tahun ajaran baru di mulai, emak-emak rempong deh siapin keperluan anak-anak. Mulai dari peralatan sekolah, buku tulis, seragam, sepatu dan perlengkapan lainnya.

Kalau keperluan di atas biasanya nggak begitu ribet, karena kita bisa cari sendiri, beda nanti kalau anak-anak sudah mulai belajar, mereka perlu buku paket juga buku LKS untuk kegiatan belajarnya, di bagian ini nih biasanya suka ada aja masalah.

Seperti saat ini pas banget anak saya lagi merengek minta ke Gramedia untuk beli buku paket PKN yang katanya belum ada di sekolah. Di lalah (bahasa apa nih ya) PR nya sudah mulai di berikan padahal buku nya belum ada. Buku paket biasanya memang di sediakan sekolah.

Wweehh..! Ikut pusing deh emaknya kalau begini, cari di Gramedia juga belum tentu ada katanya. Penerbit buku paket biasanya kan memang sudah kerjasama dengan pihak sekolah. Dan buku-buku penerbit ini seringkali nggak tersedia di toko buku umum.  Mau pakai buku kakaknya nggak bisa. Terus gimana dong?! DL deh!

Buku paket sekolah sekarang memang nggak seperti dulu. Tiap tahun selalu berganti. Buat saya yang punya anak tiga dengan usia sekolah, bagian membeli buku paket ini lumayan berat. Tiap tahun harus siapkan anggaran untuk beli buku paket baru.

Padahal secara isi sebenarnya buku-buku ini tidak terlalu banyak berbeda, apalagi jika masih dalam satu KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yaa..berhubung kebijakkan sekolah seperti itu. Mau tidak mau di beli, kalau nggak, kasihan anak-anak, gimana dong belajarnya?

Satu hal lagi buku-buku paket ini berpotensi menumpuk di rumah. Iya, setiap tahun saya mengumpulkan buku-buku paket yang kadang masih bagus itu untuk di jual ke abang rongsokkan, mau di kasih siapa lagi? Toh nggak bisa di pakai juga. Di timbun di rumah jadi sarang tikus.

Kadang miris juga sih, sayang sekali beli mahal-mahal cuma di pakai sebentar saja.

Bukupaket.com

Kebijakkan soal buku paket ini memang kayaknya rumit yaa?! Nggak berani komen deh! Ujung pangkalnya dari mana, nggak ngerti dan bukan ranah saya juga.

Yang pasti buku paket sekolah anak sekarang nggak seperti dulu, sebagai keluarga besar dengan tujuh anak berusia turun tangga (selisih dua-empat tahunan saja) Bapak saya dulu jarang sekali keluar uang untuk beli buku paket tiap tahun. Karena bisa pakai buku  paket lungsuran kakak, adik saya pun bisa pakai buku paket lungsuran dari saya.

Salah satu buku paket yang legendaris tahu dong yaa?! Buku seri baca tulis untuk anak kelas satu dan dua SD. Buku Budi dan keluarganya, yang penciptanya belum lama ini meninggal dunia namanya ibu Siti Rahmani Rauf.

ini budi...ini ibu budi..ini bapak budi...wati kakak budi..budi..budi..budi..

Meme dari iklan cokelat

Buku ini di pakai lama sekali lohh!? Makanya nggak heran sering di buat gimmick, lucu-lucuan atau meme oleh mereka generasi pemakai buku itu, banyak sekali yang belajar dari buku-buku itu, termasuk saya, kakak dan adik saya.

Iya, sampai SMP saya dan saudara-saudara masih berbagi buku paket yang sama, bahkan walaupun kami berbeda sekolah, buku paket yang di pakai tetap sama, seperti buku pelajaran matematika, geografi, bahasa Indonesia, bahasa Inggris dll.

Di atas saya ada dua kakak dan satu adik yang usia sekolahnya saling berdekatan. Jadi buku-buku paket itu di pakai sampai empat angkatan.

Yang menyenangkan dari buku paket lungsuran itu biasanya bagian latihan soal sudah terisi jawaban, karena sudah di isi kakak. Jadi nggak perlu susah kebat-kebet buku cari jawaban. Praktis males kan!?

Namanya kebijakkan pasti ada plus minus yaa, sistem pendidikan kita kan menurut para ahli sedang terus berbenah dan di perbaiki. Termasuk soal buku paket. Zaman sudah berubah, anak-anak saya juga nggak mungkin kan pakai buku-buku zaman emaknya dulu, udah kelaut juga tuh bukunya. Ya...tapi jangan tiap tahun ganti buku paket juga keleuss!?

Hayuuk lah! Siapapun yang berkompeten untuk membuat kebijakkan soal buku paket yang lebih baik, yang bisa merangkul harapan semua pihak. Ya sekolah, orangtua, anak-anak termasuk juga pemerintah dan penerbit.



















Bermain Mengenal Cita-Cita Di Kidzania Karena Masa Kecil Cuma Sekali


Dulu saat masih anak-anak, setiap kali di tanya soal cita-cita, sudah besar mau jadi apa? Jawaban saya mesti nggak konsisten, kelas satu SD ingin jadi polwan, menginjak kelas empat ingin jadi guru, sekali waktu ingin jadi dokter, dan terakhir sampai menjelang lulus SMP cita-cita saya mentok ingin jadi diplomat, yaaa begitulah saya segalau itu dengan cita-cita, yang pada akhirnya nggak ada satupun yang jadi kenyataan.*hiks.

Cita-cita memang bisa berubah-ubah seiring waktu, ya namanya juga anak-anak, perjalanan dan cara berpikirnya terus mengalami perkembangan yang tentu saja mempengaruhi keinginan dan keputusannya. Perubahan cita-cita bisa jadi karena anak-anak tidak punya gambaran seperti apa sih cita-cita mereka itu sebenarnya?



32 Tahun  Universitas Terbuka, Kerja Nyata Meningkatkan  Sumber Daya Manusia Indonesia


Pernah mendengar tentang Universitas Terbuka? Kalau sudah alhamdulillah, kalau belum pernah, nggak apa-apa juga sih!? Nah, melalui postingan ini saya ingin memberikan sedikit banyak juga ding informasi tentang Universitas Terbuka atau UT.

Ceritanya bulan Juli lalu saya menghadiri acara wisuda kelulusan SMP anak saya yang di langsungkan di gedung Universitas Terbuka Convention Centre (UTCC) Pondok Cabe, Pamulang. Melihat gedung nya yang megah berada di area kampus dan kantor pusat UT (Universitas Terbuka) yang sangat luas, nyaman dan asri. Secara spontan anak saya bertanya "...UT kan tempat ibu kuliah yah? "Iya! jawab saya. "...Terus kenapa ibu nggak pernah datang ke kampus yang keren begini?" Ia bertanya lagi. Hmmm...Saya jadi greget sekaligus bingung harus jawab apa ya..?

Suasana kampus dan kantor pusat UT tidak berbeda seperti kampus universitas ternama lain, megah, bagus, luas dan asri, karena belum pernah hadir di kelas secara real, saya cukup senang dan bangga mengetahui kalau kampus saya secara fisik keren. Yaa!? Maklum saya kan memang tidak pernah ngampus, saya masih bisa wara-wiri dan beraktivitas seperti biasa tanpa di pusingkan jadwal kuliah ke kampus. Sebagai mahasiswa UT hampir semua kegiatan perkuliahan mulai dari registrasi dan belajar di lakukan mandiri secara online.

Itulah sekilas gambaran kampus UT tempat saya kuliah, iya! Saya yang sudah emak-emak begini dengan pedenya*krik* memutuskan untuk kuliah. Jurusan yang saya ambil adalah FISIP Ilmu Komunikasi. Memang bukan tanpa alasan. Kuliah adalah salah satu impian saya yang nyaris terkubur. Hingga suatu ketika impian ini hidup kembali, efek dari kandasnya peluang saya mendirikan lembaga keterampilan khusus perempuan, karena ketiadaan ijazah S1 sebagai syarat pengajuan izin pendiriannya. ^hiks^

Every morning you have two choices: Continue to sleep with dreams OR wake up chase your dreams THE CHOICE IS YOURS

Alih-alih kecewa dan sedih saya memilih untuk "bangun dari tidur" dan mulai megejar impian saya, baca dulu dong yah plis Kuliah Bukan Mimpi Lagi 

Say!? "Ngapain sih repot-repot kuliah, Bill Gates dan Mark Zuckerberg saja bisa sukses walupun nggak kuliah.." Demikian seloroh seorang teman, ya walaupun sedikit menohok, positif thingking aja deh! Saya anggap itu bentuk perhatian. Mungkin dia kesal karena saya sudah jarang hadir di acara yang nggak terlalu penting dengan alasan belajar. *alasan ampuh

Mengatur dan menyeimbangkan waktu belajar (maklum otak sudah karatan, lama tidak di pakai mengunyah buku pelajaran*eh) dengan urusan pekerjaan rumah, tempat usaha, anak-anak, suami dan printilan lainnya membuat saya sok sibuk. Memang saya bisa beraktivitas seperti biasa tetapi ternyata ini memang bukan perkara mudah dan pepatah "If there's a will there's a way~ Di mana ada kemauan di situ ada jalan, benar-benar berlaku untuk saya. *it's true! Apalagi di setiap masa-masa menjelang ujian, alhamdulillah ada saja hal yang memudahkan dan meringankan langkah, hingga akhirnya sampai juga saya saat ini di semester ketiga.

Apa yang di katakan teman saya bisa jadi benar. Kuliah atau pendidikan tinggi bukan satu-satunya faktor penjamin kesuksesan seseorang. Banyak sekali komponen yang di perlukan untuk sukses. Karakter, attitude, lingkungan, experience dan pendidikan bisa jadi penentunya. 

Bicara pendidikan khususnya pendidikan tinggi, tentu saja bukan sebatas gelar atau atribut, tetapi pendidikan yang mampu mengubah dan meningkatkan kualitas pribadi dan hidup seseorang menjadi lebih baik. Dengan pendidikan tinggi pembangunan SDM (Sumber Daya Manusia) menjadi lebih terarah. Dan Universitas Terbuka sudah membuktikannya.

Setelah belajar di UT saya merasakan benar banyak perubahan yang  terjadi hingga bisa survive. Maklum saja, kuliah di UT, meskipun memang tidak perlu ke kampus tetapi tidak bisa di anggap remeh, belajar mandiri tanpa ada teman belajar agak membosankan, jadi melawan rasa malas itu perjuangan sekali.

Bukan berarti dengan belajar sendiri semua terasa mudah dan bebas. Belajar di UT justeru harus menghindar dari kata santai dan konsisten dengan semangat. Manajemen waktu yang baik harus di atur dengan benar. Membutuhkan komitmen, konsistensi dan motivasi yang lebih kuat untuk menjalaninya.

Banyak yang bilang kuliah di UT itu gampang masuk susah lulus, dan sangat sulit untuk bisa mendapat nilai bagus di UT. Namun menurut saya (begitu di jalani) semua kembali lagi kepada komitmen. Faktanya, apapun itu! jika seseorang tidak tegas menjalani komitmen kemungkinan untuk berhasil akan sangat kecil.

32 Tahun  Universitas Terbuka, Kerja Nyata Meningkatkan  Sumber Daya Manusia Indonesia


Karena perkuliahan di lakukan secara jarak jauh dan lebih banyak di lakukan secara online, saya nggak aneh jika kuliah di UT bagi sebagian orang mungkin terkesan tidak prestisius dan sangat biasa. Tapi percaya deh! Anggapan ini pasti akan terpatahkan begitu masuk ke dalam lingkaran UT. UT bukan kampus biasa, melainkan extraordinary university. 

Dengan lebih dari lima ratus ribu mahasiswa, bahkan pada masa registrasi ke satu tahun 2016 ini 299,317 orang terdaftar sebagai mahasiswa baru. Ternyata banyak temannya yah! meskipun "tidak terlihat".

Mahasiswa UT biasanya berkomunikasi dalam forum tutorial online, sosial media atau dalam perkuliahan yang memerlukan tatap muka.

 Dengan mahasiswa sebanyak ini sah dong ya kalau UT layak di sebut sebagai salah satu universitas terbesar di Indonesia.

Kantor UPBJJ (Unit Program Belajar Jarak Jauh) UT tersebar di semua provinsi, dan memiliki beberapa perwakilan di luar negeri.

Sistem belajar jarak jauh UT yang menuntut kedisiplinan tingkat tinggi, di dukung oleh dosen yang berpengalaman, dengan sistem IT yang yang canggih dan modern, Menjadikan UT bukanlah universitas sembarangan apalagi abal-abal. Ijazah yang di terbitkan UT setara dengan universitas negeri lain di Indonesia.

Sudah 1,3 juta orang menjadi alumni UT, bisa di bayangkan peran alumnus UT di tengah masyarakat. UT juga sudah eksis selama tiga puluh dua tahun, sebagai universitas ke 45 di resmikan tanggal 4 September 1984. Ini berarti empat windu sudah UT hadir di ndonesia. So, masih tetap meragukan UT? Think again!

32 Tahun  Universitas Terbuka, Kerja Nyata Meningkatkan  Sumber Daya Manusia Indonesia
Belajar mandiri tetap semangat

Dalam empat windu perjalanannya UT telah berkontribusi dan bekerja nyata dalam membangun negeri melalui pendidikan, dengan motto "Making Higher Education Open To All". UT berhasil membuka pintu kesempatan seluas-luasnya untuk mereka yg ingin mengenyam pendidikan tinggi, membuka jalan bagi mereka yang memiliki banyak keterbatasan. Berbekal ilmu yang di pelajari di UT jutaan alumni UT sudah terjun di masyarakat, mengamalkan ilmunya, bersinergi untuk membangun negeri ini.

Sebagai negara yang secara geografis sangat luas terbentang dari Aceh sampai Papua, terbukti sistem belajar yang terbuka dan jarak jauh di UT efektif meningkatkan daya jangkau dan pemerataan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas bagi semua warga negara Indonesia di manapun berada.

Dalam kurun waktu tigapuluh dua tahun UT juga telah memiliki banyak pencapaian yang luar biasa dengan jaminan kualitas dari Badan Akreditasi Perguruan Tinggi (BAN-PT) Sertifikat ICDE (Internasional Council For Open Education) juga Sertifikasi ISO 9001 untuk manajemen akademik dan manjemen pembelajaran jarak jauh. 

Semua sertifikasi ini merupakan bentuk pengakuan nasional maupun internasional jika UT telah memenuhi standar pelayanan praktik pendidikan belajar terbuka dan jarak jauh. Makanya tidak heran jika UT menjadi pilihan yang paling tepat untuk mereka para profesional, pendidik atau tenaga pengajar yang ingin meningkatkan kemampuan dan kualitas agar bisa upgrade ke jenjang karir yang lebih tinggi.

Banyak kisah juga dari  para TKI di luar negeri yang menjadi mahasiswa UT, lulus dan kembali ke Indonesia dengan hidup dan cara berpikir  lebih baik dan menjadi penggerak untuk memberdayakan masyarakat di kampungnya. Ini adalah sebuah bentuk contoh keberhasilan pendidikan di UT. Karena sejatinya pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa di gunakan untuk mengubah dunia.

Beberapa tokoh terkenal juga memilih UT sebagai tempat menimba ilmu, Ibu Ani Susilo Bambang Yudhoyono, Bapak Wiranto, Linda Agum Gumelar, Djohar Arifin Husin, Joko Suyanto, sampai Dj Putri Una adalah alumni UT

Selain itu dalam tiga puluh dua tahun kiprahnya, UT telah menjalin kerjasama dengan beberapa institusi untuk meningkatkan kualitas  SDM nya, seperti Departemen Pendidikan Nasional, Departemen dalam Negeri, TNI angkatan laut, Departemen Pertahanan dan Keamanan, Departemen Pertanian Bank Negara Indonesia, Garuda Indonesia, Merpati Nusantara, PT Pos Indonesia, Badan Pusat Statistik, Indosat, Tugu Pratama, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, Pusat Pendididkan Mahad Al Zaytun, Bank BTN, BKN, STEKPI dan PT Iakarta Software serta seluruh dinas pendidikan provinsi dan kabupaten di Indonesia.

Untuk menguatkan jaringannya di dunia internasional beberapa organisasi internasional juga menjalin kerjasama dengan UT, di antaranya SEAMEO (South-East Asian Ministers of Education Organization), UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), dan SEAMOLEC (SEAMEO Regional Open Learning Center) dalam upaya untuk mengembangkan pendidikan jarak jauh, World Bank dalam I’M HERE Project, DBE-USAID, dan OSAKA GAS Foundation.

UT juga berperan sebagai salah satu anggota pendiri dari beberapa organisasi internasional bidang pendidikan terbuka dan jarak jauh,   seperti Asian Association of Open University (AAOU). The Southeast Asian Ministers Of Education Organization Regional Open Learning Centre (SEAME-SEAMOLEC) dan Global Mega University Network (GMUNET). UT juga anggota aktif dari International Council For Open Distance Education (ICDE)

Menjadi mahasiswa UT tidak sulit dan bahkan sangat mudah, cukup dengan legalisir fotocopy ijazah SMA/SMK dan beberapa lembar foto, tidak ada batasan usia. Biaya yang di keluarkan untuk setiap semester juga sangat terjangkau, tidak di kenakan uang gedung. Selama ini per semesternya saya mengeluarkan kurang lebih 750 ribu rupiah saja, biaya ini bisa bertambah jika membeli buku materi pelajaran. Buku materi di pesan secara online harganya pun terjangkau. Besarnya biaya kuliah pastinya tergantung dengan jurusan yang di pilih tetapi secara umum biaya kuliah di UT tetap jauh lebih murah dari universitas lain.

Sistem belajar UT juga sangat mudah untuk di ikuti terlebih lagi dengan perkembangan teknologi saat ini. Hampir semua proses belajar di lakukan secara online melalui tutorial online, namun adakalanya di lakukan tatap muka, untuk mata kuliah yang memerlukan praktek, tetapi frekuensinya bisa di hitung jari. Yang penting selalu update kalender akademik dan memperhatikan informasi yang biasanya di share di website UT di www.ut.ac.id.

Di tengah semangat perayaan hari kemerdekaan RI ke 71 dan menjelang peringatan Dies Natalis UT ke 32, tidak salah rasanya jika saya katakan UT sudah menghasilkan kerja nyata dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Apalagi di tengah tantangan yang sudah di jelang, menghadapi persaingan global dan perdagangan bebas.

Sebagai bagian  dari UT saya bangga, dan apa yang saya pelajari di UT akan saya aplikasikan untuk kontribusi mengisi kemerdekaan, salah satunya dengan menjadi ibu yang berkualitas bagi anak-anak saya dan semoga cita-cita memililiki lembaga keterampilan segera terlaksana. Bersama UT saya siap membangun negeri.

32 Tahun  Universitas Terbuka, Kerja Nyata Meningkatkan  Sumber Daya Manusia Indonesia


 “Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-32. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.”

Link Banner

isi artikel bersumber referensi dari www.ut.ac.id

Hamil Tanpa Stress, Ibu Bahagia Bayi Ceria

Pregnancy is the happiest reason ever for feeling like a crap ~anonim~

Saat hamil tuh memang rasanya nggak karuan! Saya pribadi Sulit menjelaskannya dengan kata-kata. Tapi no matter what that feeling was, meskipun di dera morning sickness yang payah, susah tidur, susah bergerak pokoknya susah semua-semua deh! Jauh di lubuk hati yang paling dalam, terselip rasa bahagia menjalani proses kehamilan.

Namun ternyata, nggak semua ibu hamil mulus-mulus saja menikmati dan melewati masa-masa ajaib kehamilannya. ada beberapa ibu hamil merasa tidak bahagia dengan kehamilannya, mereka mengalami kesulitan beradaptasi dengan situasi dan kondisi kehamilan hingga akhirnya menjadi stress.

Stress pada ibu hamil tentu saja akan berdampak langsung kepada bayi dalam kandungan. Bayi akan ikut stress dan jika tidak di tangani dengan baik akan membahayakan kondisi ibu juga bayi dalam kandungannya.


Bukan main-main memang tahapan memberikan ASI kepada bayi, butuh effort dan support sistem yang besar dan banyak, nggak cuma dari ibu, tetapi juga dari lingkungan dan orang-orang di sekelilingnya. Sudah jadi rahasia umum, banyak kisah drama di balik masa-masa pemberian ASI. Beberapa ibu menghadapi perjuangan yang luar biasa berat saat memberikan ASI.

Bukan hanya tahapan memberi ASI, tahap melepas ASI juga nggak kalah beratnya. Sebagai ibu yang juga pernah dan sebentar lagi akan mengalami masa-masa melepas ASI, cukup membuat hupphhfftttt! Weleh-weleh deh judulnya! Layaknya melepas orang addicted atau kecanduan, melepas ASI pun penuh perjuangan. Beragam strategi, taktik dan jurus ampuh di keluarkan. Dari mulai kopi sampai brotowali. Serta tidak lupa menguatkan hati dan telinga mendengar tangisan, rengekan, dan rayuan agar tidak trenyuh dan mengalah. Tapi bagaimanapun proses itu pasti, mau tidak mau harus di jalani.

© Nunu Halimi ·