Halo hai, sahabat daring, mau tahu kah seperti apa rasanya melahirkan dengan jarak kehamilan yang cukup lama?

Hmmm...rasanya seperti menjadi ibu baru. Iyes, itulah yang saya rasakan dua tahun lalu, ketika melahirkan Kian, putera bungsu saya yang berselisih usia sembilan tahun dari kakaknya.

Rasanya nggak percaya ketika mendapat tanda kalau saya hamil lagi. Hah! Koq bisa ya?! Saya kira sudah cukuplah anak tiga yang kami miliki. Namun rupanya Allah berkehendak lain, sebuah anugerah dan amanah masih di percayakan kepada kami.
Bicara soal gizi, pasti nggak jauh dari urusan makanan, dan membahas urusan makanan, bagi seorang ibu yang sehari-hari berkutat di dapur, rasanya nggak habis-habis.Ada saja yang harus di pikirkan, dari mulai mikirin mau masak apa hari ini? Kira-kira Anak-anak suka nggak ya? Serta  mikirin sudah maksimal belum ya kandungan gizi masakan yang saya masak?

Bertepatan dengan peringatan Hari Gizi Nasional, yang jatuh tanggal 25 Januari lalu, istilah Pedoman Gizi Seimbang ramai di bicarakan. Momen ini menambah wawasan saya akan pentingnya pemenuhan gizi seimbang. Apalagi sebagai ibu yang tumbuh di tahun 80-90an, lebih familiar dengan istilah 4 sehat 5 sempurna, yang ternyata di nyatakan sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan keilmuan dan berganti dengan istilah yang lebih pas, yaitu prinsip Pedoman Gizi Seimbang.

Banyak hal yang saya syukuri dalam hidup ini, salah duanya adalah dilahirkan sebagai muslimah dan menjadi warga negara Indonesia, yang mayoritas penduduknya beragama islam. Karena, dengan menjadi muslimah, pertanyaan tentang pencarian jati diri sebagai manusia sudah terjawab. Iyes, islam telah menjelaskan secara gamblang dan rinci tentang ini, dari mulai sejarah dan proses penciptaan hingga hakekat manusia di utus ke bumi sesungguhnya, yaitu untuk beribadah.

Ibadah dalam islam bukan sebatas pengamalan amalan-amalan wajib (sholat, puasa, zakat, dll) jangkauan ibadah dalam islam sangat luas dan maknanya juga sangat dalam, hatta sebagai ibu rumah tangga biasapun, yang sehari-hari konon cuma “nguprek” di rumah, ngurus anak, ngurus suami, selama di lakukan dengan ikhlas dan ridho, itu sudah tercatat sebagai ibadah dalam islam. *Eh kok jadi kayak setengah curcol yah hehe.

Hallo, hai sahabat daring, terutama teman-teman Blogger..

Tentu nggak asing dong ya dengan sosok yang satu ini, figur terkenal yang kesuksesannya bermula dari blog, Diana Rikasari. Pemilik blog Hot Chocolate and Mint, fashion blogger yang juga sukses dengan buku best seller trilogi #88 Love & Life.


Mba Diana juga menjadi salah satu Indonesia’s 100 Most Influential Youth Women Netizen (YWN) menurut The Marketeers & Markplus Inc., Inspiring Women of The Year menurut Wardah Cosmetics, dan penghargaan-penghargaan lainnya.


Saya beruntung sekali menjelang akhir tahun lalu, bersama teman-teman dari Blogger Perempuan hadir dalam sebuah acara yang menghadirkan Diana Rikasari sebagai narasumber, pada acara Casio My Style Blogger Gathering yang mengambil tema ‘Little Things to Boost Mood and Productivity’

Casio My Style Blogger Garhering Cara Ngeblog Dengan Semangat Penuh Warna Dari Diana Rikasari

Bertempat di Harlequin Bistro, Kemang Jakarta Selatan,  pada  akhir acara saya memberanikan diri untuk langsung bertanya secara pribadi kepada Diana yang hari itu seperti biasa, tampil dengan gaya khasnya. 
Menjalani proses tumbuh kembang anak-anak, hingga bisa sampai seperti hari ini, sering terselip rasa percaya nggak percaya pada diri saya.

Yaa ampuun?! Koq saya bisa  yah “membesarkan” mereka!? Maklum saya menjadi ibu di usia muda. Menikah umur 20, sebulan menikah langsung hamil.  Tanpa ilmu parenting, gizi, dan nutrisi memadai, jauh dari orangtua, plus kurang akses informasi. Rasanya banyak banget kekurangan saya. 

Setelah melalui berbagai fase perjalanan dan menghadapi berbagai rintangan dari bayi, masa balita sampai sekolah dasar, akhirnya kini anak-anak sudah memasuki masa ABG (Anak Baru Gede ) menjadi remaja. Yang paling besar usianya 16 tahun, yang kedua  14 tahun, dan yang ketiga kini sudah 11 tahun.

© Nunu Halimi ·