Jeli Memilih Produk Perawatan Bayi Dengan Bambi Baby Care

Halo hai, sahabat daring, mau tahu kah seperti apa rasanya melahirkan dengan jarak kehamilan yang cukup lama?

Hmmm...rasanya seperti menjadi ibu baru. Iyes, itulah yang saya rasakan dua tahun lalu, ketika melahirkan Kian, putera bungsu saya yang berselisih usia sembilan tahun dari kakaknya.

Rasanya nggak percaya ketika mendapat tanda kalau saya hamil lagi. Hah! Koq bisa ya?! Saya kira sudah cukuplah anak tiga yang kami miliki. Namun rupanya Allah berkehendak lain, sebuah anugerah dan amanah masih di percayakan kepada kami.
Menjalani kenyataan hamil dan akan memiliki anak lagi, membuat saya excited. Rupanya banyak sekali urusan perbayian yang sudah saya lupakan. Yaa..ampun itu rasanya lucu banget. Ibu-ibu yang katanya udah berpengalaman ini ternyata masih mikirin  gimana ya nanti cara pasang popok bayi, memakaikan baju, memandikan, memberi makan dan lain-lain.

Memiliki anak  bagi saya adalah sebuah previlege luar biasa dari sang maha pencipta. Tiap anak punya kisahnya masing-masing. Termasuk cerita kehamilan Kian yang penuh tantangan, karena saya sempat di diagnosa terkena polip serviks, dan itu membuat saya deg-degan. Namun almdulillah semua berjalan lancar.

Perlahan namun pasti, proses menjadi ibu “baru” bisa saya jalani, seiring waktu Kian hari kini tumbuh menjadi anak yang sehat dan menggemaskan.

sumber gambar: Instagram Bambi


Hal yang menyenangkan dalam menjadi ibu dengan usia Batita adalah menyaksikan pertumbuhannya yang sangat pesat, maklum saja ya konon seribu hari pertama kehidupan bayi adalah momen terbaik pada tahap kehidupan manusia. Dari mulai bisa mengangkat  leher, bisa duduk, berdiri, berjalan dan sekarang sudah mulai belajar berbicara. 

Balita juga sudah mulai memiliki naluri kemandirian, yang sebenarnya lebih mengarah ke ego. Soalnya kadang-kadang sok tahu ingin melakukan apa yang di sukainya sendiri, nggak suka di atur atau di bantu-bantu gitu. Itulah yang sedang saya alami akhir-akhir ini. 

Situasi yang menggemaskan tapi sekaligus kadang-kadang bikin emosi..hahaha. Ya habis gimana nggak kalau sudah mandi misalnya, maunya apa-apa sendiri dari mulai menyalakan air sampai bersabun. Air keran di nyalakan suka-suka, dan selalu menolak untuk di matikan *errrr..nggak tahu apa ya bayar listriknya mihil. hihii*

Ya begitulah. Hmmm. Tapi ya, bagi saya kadang kondisi ini justru saat yang tepat buat menanamkan nilai-nilai kepada Kian, misalnya mengajarkan berhemat air atau pakai sabun yang benar. Walaupun terkesan belum mengerti apa-apa yah, ternyata anak usia balita mudah merekam, menangkap, dan meniru apa yang di katakan orang-orang di sekitarnya.

Memiliki balita lagi, membuat saya juga jadi belajar lagi, ya itu tadi karena banyak yang sudah lupa. Tapi untungya di era digital seperti sekarang, kita bisa dengan mudah mencari informasi.

Termasuk di antaranya memilih, mencari, dan menggunakan produk perawatan bayi dan balita yang benar, tentu harus teliti sebelum membelu. Jeli memilih produk perawatan bayi sangat penting, karena meskipun struktur kulit bayi dan balita tidak beda jauh dengan orang dewasa, tingkat sensitifitasnya masih tinggi, terutama pada bayi yang baru lahir. 

Berdasar pengalaman, dan berbagai informasi yang saya baca, ada beberapa hal yang harus di perhatikan dalam memilih produk perawatan balita yang oke di antaranya: 

1. Hypoallergenic dermatology tested, dan uji klinis.  Yaitu produk perawatan bayi yang teruji bebas bahan-bahan yang menyebabkan alergi. Kulit bayi yang sensitif mudah mengalami alergi, karena itu penting memastikan produk yang tidak membuat alergi kulit bayi.

2. Anti Iritasi, produk perawatan bayi juga sebaiknya anti iritasi, aman di pakai tidak mdnyebabkan gangguan pada kulit bayi setelah di gunakan.

3. Bebas surfaktan SLS  atau Sodium Lauryl Sulfat, ini semacam zat tambahan yang indikasinya umum di  gunakan sebagai pembersih noda dan kotoran membandel, biasanya di gunakan pada produk pembersih seperti detergen pakaian, pembersih lantai, dan lain-lain.

4. Produk dengan ph seimbang, ph kulit bayi yang baru lahir biasanya antara 5 sampai 6 sedikit asam, namun semakin besar ph kulit bayi biasanya mendekati normal antara 6-7 

5. Menggunakan bahan alami yang sesuai untuk kulit bayi.

6. Memiliki sertifikat halal dari MUI (Majelus Ulama Indonesia) Ini penting buat kita umat islam, menggunakan produk perawatan bayi yang sudah tersertifikasi halal. Menjamin produk yang di gunakan sudah sesuai baik bahan maupun prosesnya dengan prinsip halal yang wajib khair (baik, bersih, sehat, tidak terkontaminasi zat yang di haramkan.

Banyak produk perawatan bayi yang tersedia di pasaran, kadang kita bingung memilihnya. Nah, kritetia di atas bisa jadi cara untuk memilih produk perawatan bayi yang oke.

Salah satu produk yang memenuhi semua kriteria di atas adalah Bambi Baby Care. Produk perawatan yang baru-baru ini saya gunakan untuk Kian

Jeli Memilih Produk Perawatan Bayi Dengan Bambi Baby Care

Menyediakan berbagai macam produk perawatan bayi, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ternyata Bambi ini adalah produk perawatan bayi yang sudah di percaya untuk kulit bayi hingga balita mulai dari usia 0 bulan.

sumber gambar: Instagram Bambi

Selain produk di atas, tersedia juga produk Bambi lainnya, di antaranya dua produk yang saya pakai untuk Kian yaitu Bambi Hair and body bath dan Anti mosquito lotion atau krim anti nyamuk.

Bambi Hair and Body bath

Produk yang satu ini pas banget dan jadi solusi jitu berhemat buat ibu-ibu. Karena cukup dengan menggunakan satu produk, manfaat sabun mandi dan shampoo bayi bisa kita dapatkan. Di gunakan untuk mandi dan keramas, dengan kandungan provitamin B5, ekstrak licorice, chamomile. Bermanfaat untuk kulit bayi dalam menjaga kulit bayi dari iritasi dan tidak pedih di mata.

Jeli Memilih Produk Perawatan Bayi Dengan Bambi Baby Care

Jeli Memilih Produk Perawatan Bayi Dengan Bambi Baby Care

Kandungan vitamin E, ph balance dan conditone P-7 di dalamnya juga membantu, menjaga kelembaban kulit bayi.  Rambut tidak mudah kusut dan kulit tetap halus. Pemakaiannya juga lumayan hemat, Kian yang suka main busa tidak perlu banyak mengeluarkan Hair and Body bath ini. Busanya melimpah, selain itu aroma wangi harum lembut, khas bayinya juga enak, tahan lama. Kian yang suka mandi, jadi makin semangat mandi dengan Hair and Body bath ini.


Jeli Memilih Produk Perawatan Bayi Dengan Bambi Baby Care

Anti Mosquito lotion

Anti Mosquito lotion, ini sebenarnya produk yang bersahabat dengan Kian,Meski rajin bersih-bersih, nyamuk tetap meraja lela. Nggak di dalam rumah saja, pun di luar rumah. Maklum lingkungan rumah saya di daerah pinggiran, masih banyak kebun-kebun kosong, yang jadi tempat ideal perkembang biakkan nyamuk, karena banyak sampah dan air menggenang.

Sering banget kepikiran urusan si nyamuk ini, soalnya koq nggak habis-habis ya. Ada lagi, ada lagi. Nggak peduli siang malam, pagi dan petang nggak pernah absen. Makanya dan khusus untuk Kian nggak cuma saat tidur aja, saat bermain pun saya oleskan anti nyamuk. Karena dia kan belum peka sama gigitan nyamuk, belum punya reflek mengusir nyamuk.

Jeli Memilih Produk Perawatan Bayi Dengan Bambi Baby Care




Kian Sudah mencoba Bambi anti mosquito lotion, terbukti  ampuh menghindari nyamuk, aromanya juga unik, paduan wangi aromatherapy sereh dan rempah yang segar, Menenangkan.

Jeli Memilih Produk Perawatan Bayi Dengan Bambi Baby Care

Kian sangat suka nih pas bagian oles-oles Bambi Anti Mosquito lotion, cara pakaianya yang simpel, dan mantap mencegah gigitan nyamuk sekarang jadi andalan. Saat bermain bisa tenang nggak di gigit nyamuk lagi, dan saat tidur bisa pulas bebas gangguan nyamuk.
Jeli Memilih Produk Perawatan Bayi Dengan Bambi Baby Care

Bersyukur banget deh, bisa mengetahui ada produk yang oke punya seperti Bamby Baby care, punya solusi efektif dalam merawat kulit bayi. Produk dengan jaminan kualitas di jamin halal.

Punya anak berapa aja kayaknya nggak perlu risau ya, apalagi ada rangkaian produk lengkap untuk merawat kulit dan tubuhnya. Tapi kalau suruh nambah lagi, saya mungkin memilih geleng kepala deh. hahaha. Mau fokus urus Kian dulu. 

Buat sahabat yang punya balita juga seperti Kian, dan cari referensi produk bayi yang oke, coba juga deh produk-produk Bambi yes. Kepoin aja semua akun media sosial Bambi, untuk dapat informasi yang lebih jelas. 














Tampilan Logo Social Circle So Good, Semangat Penuhi Gizi Seimbang

Bicara soal gizi, pasti nggak jauh dari urusan makanan, dan membahas urusan makanan, bagi seorang ibu yang sehari-hari berkutat di dapur, rasanya nggak habis-habis.Ada saja yang harus di pikirkan, dari mulai mikirin mau masak apa hari ini? Kira-kira Anak-anak suka nggak ya? Serta  mikirin sudah maksimal belum ya kandungan gizi masakan yang saya masak?

Bertepatan dengan peringatan Hari Gizi Nasional, yang jatuh tanggal 25 Januari lalu, istilah Pedoman Gizi Seimbang ramai di bicarakan. Momen ini menambah wawasan saya akan pentingnya pemenuhan gizi seimbang. Apalagi sebagai ibu yang tumbuh di tahun 80-90an, lebih familiar dengan istilah 4 sehat 5 sempurna, yang ternyata di nyatakan sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan keilmuan dan berganti dengan istilah yang lebih pas, yaitu prinsip Pedoman Gizi Seimbang.

Axa Mandiri Elite Plan Syariah, Rencanakan Masa Depan Dengan Asuransi Berbasis Syariah

Banyak hal yang saya syukuri dalam hidup ini, salah duanya adalah dilahirkan sebagai muslimah dan menjadi warga negara Indonesia, yang mayoritas penduduknya beragama islam. Karena, dengan menjadi muslimah, pertanyaan tentang pencarian jati diri sebagai manusia sudah terjawab. Iyes, islam telah menjelaskan secara gamblang dan rinci tentang ini, dari mulai sejarah dan proses penciptaan hingga hakekat manusia di utus ke bumi sesungguhnya, yaitu untuk beribadah.

Ibadah dalam islam bukan sebatas pengamalan amalan-amalan wajib (sholat, puasa, zakat, dll) jangkauan ibadah dalam islam sangat luas dan maknanya juga sangat dalam, hatta sebagai ibu rumah tangga biasapun, yang sehari-hari konon cuma “nguprek” di rumah, ngurus anak, ngurus suami, selama di lakukan dengan ikhlas dan ridho, itu sudah tercatat sebagai ibadah dalam islam. *Eh kok jadi kayak setengah curcol yah hehe.

Casio My Style Blogger Gathering Cara Ngeblog Dengan Semangat Penuh Warna Dari Diana Rikasari

Hallo, hai sahabat daring, terutama teman-teman Blogger..

Tentu nggak asing dong ya dengan sosok yang satu ini, figur terkenal yang kesuksesannya bermula dari blog, Diana Rikasari. Pemilik blog Hot Chocolate and Mint, fashion blogger yang juga sukses dengan buku best seller trilogi #88 Love & Life.


Mba Diana juga menjadi salah satu Indonesia’s 100 Most Influential Youth Women Netizen (YWN) menurut The Marketeers & Markplus Inc., Inspiring Women of The Year menurut Wardah Cosmetics, dan penghargaan-penghargaan lainnya.


Saya beruntung sekali menjelang akhir tahun lalu, bersama teman-teman dari Blogger Perempuan hadir dalam sebuah acara yang menghadirkan Diana Rikasari sebagai narasumber, pada acara Casio My Style Blogger Gathering yang mengambil tema ‘Little Things to Boost Mood and Productivity’

Casio My Style Blogger Garhering Cara Ngeblog Dengan Semangat Penuh Warna Dari Diana Rikasari

Bertempat di Harlequin Bistro, Kemang Jakarta Selatan,  pada  akhir acara saya memberanikan diri untuk langsung bertanya secara pribadi kepada Diana yang hari itu seperti biasa, tampil dengan gaya khasnya. 

Menjadi Dekat dan Terhubung dengan Anak ABG (Remaja)

Menjalani proses tumbuh kembang anak-anak, hingga bisa sampai seperti hari ini, sering terselip rasa percaya nggak percaya pada diri saya.

Yaa ampuun?! Koq saya bisa  yah “membesarkan” mereka!? Maklum saya menjadi ibu di usia muda. Menikah umur 20, sebulan menikah langsung hamil.  Tanpa ilmu parenting, gizi, dan nutrisi memadai, jauh dari orangtua, plus kurang akses informasi. Rasanya banyak banget kekurangan saya. 

Menjadi Dekat Dan Terhubung Dengan Anak ABG (Remaja)

Setelah melalui berbagai fase perjalanan dan menghadapi berbagai rintangan dari bayi, masa balita sampai sekolah dasar, akhirnya kini anak-anak sudah memasuki masa ABG (Anak Baru Gede ) menjadi remaja. Yang paling besar usianya 16 tahun, yang kedua  14 tahun, dan yang ketiga kini sudah 11 tahun.


Makin bertambah usia anak, ternyata bukan berarti perjalanan makin mudah. Karena yang ada malah makin ulala, tantangannya udah beda dan lebih dahsyat lagi.

Tapi alhamdulillanya dari sisi waktu, sudah mulai agak enak ya. Nggak berebet-rebet banget waktu habis untuk mengurusi semua urusan anak, karena mereka sudah mandiri. Jadi bisa lebih santai dan punya waktu luang.


Menjadi orangtua nggak ada sekolahnya, dan andai anak-anak di lahirkan dengan membawa manual book masing-masing mungkin tugas bisa lebih mudah, hehe. Tapi di situlah seni dan nilainya.


Mendididik anak-anak di masa remaja, bagi saya, kadang terasa sulit tapi ada mudahnya juga, yaa pokoknya nano-nano gitu deh. Terutama di bagian komunikasi.

Ini tentu bukan tanpa sebab, mereka sudah punya second opinion. Kata-kata, masukan, dan nasihat orangtua bukan lagi satu-satunya pilihan yang harus di terima. Guru, buku bacaan, teman, lingkungan, juga media  seperti media sosial dan media-media online, sudah mempengaruhi tingkat penerimaan mereka terhadap omongan orangtua.

Nggak heran, menjangkau dan terhubung dengan mereka, baik fisik maupun psikis, jadi  bagian yang eng-ing-eng.

Apalagi zaman sekarang, tahu sendiri kan ya..?! Banyak contoh fenomena kehidupan remaja yang bikin ketar-ketir. Hidup di era globalisasi dengan jangkauan pergaulan yang luas via teknologi, perannya sangat besar dalam membentuk perilaku remaja saat ini.


Kalau sudah begitu, jadi flashback juga ke masa remaja diri sendiri, dan teringat bagaimana perjuangan orangtua dahulu. Meski zaman dan tantangannya beda, tapi feelnya bisa jadi sama.
 Ohhh..begini yaa  rasanya jadi orangtua?!

Dalam berkomunikasi dengan remaja, selalu ada pasang surut. Makanya pintar-pintar orangtua memposisikan diri.

Mengutamakan kesabaran, menurunkan level emosi, lemah lembut namun tetap tegas adalah beberapa kunci yang saya lakukan dalam menghadapinya.

Untuk beberapa alasan, mereka cenderung terbuka, tapi sering juga tertutup, bahkan bisa menolak melakukan kontak mata. Makanya keinginan untuk selalu dekat dan terhubung secara natural adalah harapan yang selalu saya usahakan. Bagaimana terhubung dan membangun kedekatan dengan anak remaja, prosesnya tentu harus di rintis sedari mereka kecil.

Alhamdulillah. Sejauh ini saya merasa cukup dekat dan terhubung dengan anak-anak, dalam membangun hal tersebut saya ingin share beberapa tips yang saya lakukan dengan anak agar selalu terhubung dan dekat dengan kita orangtua, di antaranya:

  1. Jangan terlalu berharap mereka pasti dengar apa yang di katakan orangtua, dan memaksa bertatap muka saat kita bicara, misalnya dengan posisi mereka duduk diam, sementara kita nyerocos ngomongin ini itu (ini mah orang pidato ya!) Berkomunikasi kapan dan di mana saja bisa di lakukan. Peka menangkap momen, karena kadang di situasi yang terasa sambil lalu, mereka malah nyimak dan ingat apa yang saya katakan, hadeuhh?!
  2.  Jangan biarkan “menghilang” terlalu lama tanpa pantauan. Pernah lihat anak ABG bonceng motor bertiga, lewat jam sebelas malam berkeliaran  di jalan raya? Nah, kemungkinan besar anak-anak ini “menghilang” dan di anggap  biasa saja oleh orangtuanya. Meskipun kita sangat sibuk, pastikan untuk check in di mana posisi anak, tidak perlu yang terlalu posesif segimananya, setiap menit di tanyai. Intinya, yang penting tahu di mana anak berada.
  3. Anak remaja sudah bisa “hang out” pergi keluar rumah bersama teman-temannya, entah untuk sekadar janjian di mall atau nonton film di bioskop. Kenali dengan siapa anak-anak berteman, cari tahu juga di mana rumahnya. Tidak perlu semua teman, cukup beberapa yang paling intens bersama dengan anak. Saat seperti ini. Kalau anak-anak  pergi, saya selalu pastikan, agar handphonenya aktif, full batere, dan siap paket data. Selain itu anggap teman anak-anak kita juga sebagai anak sendiri, jadi kalau ada yang main kerumah, ketemu di jalan atau apapun, sambut, layani, berinteraksi dengan mereka. Citra abg dalam pertemanan, sedikit banyak juga bisa jadi panduan memahami kepribadian mereka.
  1. Luangkan waktu untuk main-main, bercengkrama, di tempat tidur atau di kamar mereka, Meski tiap hari ketemu,bisa saja anak sebenarnya sedang kesepian. Ada hal-hal yang mungkin di rahasiakan, di sini biasanya suka kelihatan tuh gestur dan bahasa tubuh mereka, kalau baru masuk kamar udah mulai kikuk, jadi aware.
  2. Peka terhadap perubahan. Naluri ibu biasanya lebih kuat untuk hal ini. Namun menjadi peka, kadang-kadang juga perlu di latih. Untuk latihannya mungkin hanya ibu ya yang tahu rasanya. Yang terpenting  jangan sampai suudzhon sama anak sendiri.
  3. Tidak ada topik terlarang. Nah, ini penting di tengah gejolak usia remaja, berdiskusi terbuka dan jujur ​​ tentang apapun bahkan pada topik yang bikin risih dan nggak nyaman. Misalnya hal yang sangat personal. Pernah mereka tanya-tanya hubungan antara ibu dan ayah, seksualitas, gender, masalah uang dan lain-lain. Saya biasa menjawab sependek yang saya tahu, dengan bahasa yang sekiranya bisa mereka mengerti, seiring waktu mereka nantinya akan paham.
  4. Selaras dengan apa yang mereka suka. Memang sulit jika anak memiliki minat yang tidak menarik minat kita. Pahami dulu latar belakang mengapa mereka tertarik pada minatnya Selama apa yang di lakukan lebih banyak berdampak positif ke anak, mengalir saja.
  5. Menjadi teman tapi orangtua. Ini juga peer yang rasanya akan lama selesainya, karena pada dasarnya orangtua ya tetap orangtua, tidak mungkin menjadi teman dalam arti harfiah. Secara general menjadi teman dengan anak konteksnya agak rumit. Sayapun masih belajar.
Setiap keluarga pasti punya cara masing-masing dalam teknis pengasuhan, sebenarnya masih banyak hal lainnya yang kami lakukan, namun yang pasti dalam semua hal yang berhubungan dengan remaja, yang utama adalah tentang kualitas waktu.

Kita hanya diberi waktu 24 jam dalam sehari, dan hanya hitungan hari dalam seumur hidup, jadi mengalokasikan  kualitas waktu  untuk mereka adalah hal utama.

Apalagi seiring waktu mereka akan tumbuh dewasa, memiliki hidup dan dirinya sendiri. Waktu takkan pernah kembali.

Ini hanya sekedar sharing ya, sayapun masih banyak belajar. Bagimana konsisten membangun kedekatan dan hubungan itu terus menerus. Semoga dengan modal hubungan dan kedekatan, mereka bisa tumbuh menjadi pribadi baik di masa depan, paling tidak untuk diri mereka sendiri. Aamin