Sungai Cikeas Dalam Kenangan




Tapi tidak bagiku, jauh sebelum tenar dikenal sebagai nama tempat tinggal mantan orang nomor satu di negeri ini (Puri Cikeas Indah) sungai Cikeas adalah taman bermainku, bersama teman-teman tak terhitung hari yang ku habiskan di sana, dari berenang sampai mencari kecebong.

Sudah habis kata dan omelan emak yang selalu mengingatkan aku untuk tidak terlalu sering-sering bermain di sungai ini, tapi menuruti perintah emak bukanlah pilihan, meski emak kadang mencuci baju bahkan mencuci piring di sungai ini, ia tetap khawatir kalau kami bermain terlalu lama apalagi tanpa di dampingi orang dewasa.
Saat bertemu dan berkumpul dengan keluarga besar adalah satu momen yang selalu di tunggu, ya! karena sibuk dengan urusan masing-masing, bertemu dengan keluarga besar menjadi kesempatan yang langka, belum lagi jika anggota keluarga besar rumahnya berjauhan di luar kota, luar provinsi atau di luar negeri.

Keluarga besar kami bertemu tiga bulan sekali saja rasanya belum tentu. Andaipun bisa pastinya tidak dalam formasi lengkap, ada saja yang absen tidak hadir.

keluarga besar saya, baik dari pihak saya dan suami yang memang berasal dari KB ( Keluarga Besar) Saya tujuh bersaudara, bapak, ibu, nenek dan kakek semua lahir di keluarga besar, lebih dari lima saudara. Suami sebenarnya cuma punya satu kakak, tapi keluarga dari ayah dan ibunya banyak. Kalau benar-benar kumpul semua, satu gerbong commuter line rasanya pasti kurang, ada satu keluarga tante dari pihak suami anaknya dua belas,  kalau kumpul sampai anak cucu ramai macam pasar. Suami saja yang notabene itu sama sepupu dan keponakan sendiri aja ngga hafal satu persatu apalagi saya, geleng-geleng aja deh!

Sepupu saya juga ngga kalah banyak bibi saya  anaknya sepuluh. Keluarga kami ini sepertinya tipe keluarga yang kurang hiburan, jadi kerjaanya nambah anak terus yaa..*uhuk.

Jadi memang agak sulit mengumpulkan keluarga yang besar seperti ini, kalau saya ya paling lebih sering kumpulnya sama keluarga inti, adik, kakak, keponakan dan ipar-ipar saja. Momen seperti idul fitri atau jika ada yang punya hajat biasanya baru deh keluarga besar  bisa kumpul semua.

Komunikasi yang update juga ngga begitu sering, tapi ya itu kalau ada momen penting salah satu anggota keluarga besar, seperti syukuran, nikahan, semua benar-benar berusaha datang.

Ngga sekadar datang tapi juga kadang saling membantu kalau ada acara, malah mungkin bisa ngga perlu pakai EO, mulai dari masak sampai printilannya pasti ada saja yang bisa turun tangan.

Satu hal lagi setiap kumpul ada aja sesuatu yang berbeda, seperti ada anggota keluarga baru (bayi) yang tadinya single sekarang double, yang jomblo bawa pacarnya, ada yang bawa mobil baru, macam macam deh, belum lagi cerita atau gosip underground antara keluarga seperti sebentar lagi ada yang mau di lamar lah! Ada yang mau umroh, sampai gosip ada yang mau kawin lagi beredar ngga kalah sama infotainment.

Itulah keluarga besar, makin banyak makin dinamis, yang penting tetap rukun, kompak, dan silaturahmi selalu terjaga.


Ps: maaf no spoiler foto, belum sempat izin untuk di tampilkan.




















Apotik hidup, apa sih apotik hidup?  Jujur saya bukan orang yang hobi tanam menanam, tapi tanpa saya sadari beberapa tanaman apotik hidup ada di pekarangan rumah, padahal yah..! semua main asal tancap saja, seperti kunyit, jahe, kencur, sereh, dll. biasanya karena tak terpakai, terlanjur kering, masukkan ke tanah pekarangan, dan alhamdulillah, ternyata tumbuh.

Apotik hidup adalah tanaman obat-obatan tradisional yang di tanam dengan memanfaatkan sebagian tanah, taman atau pekarangan di sekitar rumah atau lingkungan untuk keperluan sehari-hari, yang bisa di ambil kapan saja di perlukan.

Bumbu-bumbu dapur seperti kunyit, jahe, kencur dan lainnya memang merupakan salah tiga tanaman apotik hidup, karena selain sebagai bumbu tanaman-tanaman itu juga bisa di pakai sebagai obat-obatan tradisional.

Salah satu tanaman apotik hidup yang kaya manfaat adalah kunyit.

"Tring!! 

Bunyi pemberitahuan sebuah whatsapp messanger di grup terdengar, isinya membuat saya merasa getir, sebuah broadcast message tentang kekhawatiran dan persoalan yang mungkin terjadi di masa depan dari efek mulai membanjirnya pekerja asing di Indonesia, informasi meningkatnya statistik pendaftaran akan masuknya banyak pekerja asing, dari beberapa negara tetangga mulai dari yang professional, sampai pekerja kasar, sektor formal dan informal termasuk pekerja rumah tangga.. Woow!! mba asisten rumah tangga (yang sering menjadi drama dan balada ibu-ibu)  asing ternyata  mulai masuk ke rumah-rumah di beberapa wilayah di Jakarta, konon mereka bekerja dengan pemenuhan standar service excellent di atas rata-rata dengan gaji yang kurang lebih sama dengan pekerja lokal, hhmmm…dan hal seperti ini bisa terjadi karena salah satu bagian dari kesepakatan MEA.



Apabila kita membuka beranda google dan memasukkan berbagai kata kunci untuk mencari informasi yang kita butuhkan, maka biasanya akan bermunculan berbagai macam informasi yang umumnya di tulis oleh blogger.

Dulu sebelum aktif ngeblog saya sama sekali nggak pernah memperhatikan siapa penulisnya, sudah dapat yang saya cari,ya.. sudah! Tapi setelah memutuskan menjadi blogger, kebiasaan ini berubah. 


Lima Jam Keliling Singapura
  Lima jam keliling Singapura, apa bisa?! Ternyata bisa aja sih kalau tidak bertujuan menghabiskan waktu ke tempat wisata tertentu, sebagai sebuah negara kota yang luasnya mungkin kurang lebih sama dengan kota Depok, mengelilingi Singapura tidak butuh waktu lama, apalagi transportasi disana sudah modern dan canggih jadi kita ngga akan menemui kendala berarti, kemacetan lalu lintas menyita waktu ngga ada dalam cerita, dengan sistem transportasi yang rapi dan teratur, Singapura membuat pelancongnya merasa nyaman dan aman di jalan.

       Karena tertarik tawaran Pak Yas, sopir taksi yang mengantarkan kami Jembatan Barelang, otomatis jadwal keberangkatan kapal penyeberangan kami menjadi molor, kami yang semula berniat menaiki kapal di jam pertama, sekitar jam delapan pun batal, hari masih cukup pagi, setelah kembali dari Jembatan Barelang, kamipun bersiap dan rapi-rapi, karena hotel tempat menginap persis ada di samping pelabuhan, jadi bisa lebih santai.

Lima Jam Keliling Singapura
Langit Singapura yang gelap tak menyurutkan langkah

     Kapal yang kami naiki berangkat tengah hari, kami memang tidak berencana berlama-lama di Singapura, maklum untuk benar-benar menghabiskan jalan-jalan ke sini, sepertinya budget yang di siapkan harus ekstra. Jadi intinya hanya ingin memperkenalkan Singapura kepada anak-anak, mereka kan baru pertama kali keluar negeri, sebagai negara tetangga terdekat, Singapura memang patut menjadi negara tujuan pertama yang `di kunjungi, dengan cuaca dan suhu udara yang tidak jauh berbeda, kendala bahasa juga makanan mudah di atasi di sini.

     Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam kapal penyeberangan dari Batam berlabuh di Harbour Front, perjalanan keliling Singapura bisa di mulai dari sini, Vivo City kemudian ke Universal Studios, di Sentosa, yang bisa di tempuh dengan berjalan kaki, kami  tidak beruntung begitu sampai di Universal Studios hujan turun dengan derasnya, jadi tidak bisa maksimal menikmati suasananya.


     Cara lain jalan-jalan ke Singapura adalah dengan naik bus sightseeing Hop On Hop Off Singapura, sebenarnya kami berniat naik bus ini sayangnya karena hari hujan, dan di kejar waktu harus tiba di Woodlands sebelum pukul enam sore, kami batalkan naik bus ini.

     Waktu masih ada beberapa jam sebelum jam enam sore, hujan sudah sedikit mereda, kami putuskan untuk naik MRT, turun di stasiun City Hall menuju ke Merlion Park, untuk apalagi kalau bukan berfoto ria di patung Merlion, ikon Singapura.

    Satu yang berkesan adalah suasana saat naik MRT, memperhatikan cara jalan orang-orang yang serba sibuk seolah tergesa-gesa, membuat anak-anak saya terheran-heran, mungkin karena berkebalikan dengan suasana di sini yang terkesan serba lambat, beberapa kali mereka sempat kikuk karena terbawa suasana, dari hal yang kecil seperti ini saya bisa merasakan mereka mendapatkan satu hikmah, wawasan dan pelajaran baru, menurut mereka Singapura bisa maju karena mereka bergerak cepat... Hhmm yaa?! bisa jadi!?






    Tertib, disiplin, dan teraturnya warga singapura juga menjadi perhatian mereka, memang sudah sejak dari rumah saya memberi gambaran tentang ini, cepat beradaptasi, mereka jadi sangat berhati-hati, takut di denda katanya. Selama di dalam MRT mereka benar-benar menikmati perjalanan dari satu stasiun ke stasiun lainnya, saat saya katakan beberapa tahun kedepan negara kita akan punya yang seperti ini di Jakarta, waaahh! Assyik! Katanya.

    Lima jam memang tidak cukup untuk menggambarkan suasana Singapura secara utuh, tapi cukup menambah wawasan, perjalanan di Singapura berujung di stasiun Woodlands, untuk mencari bus yang akan mengantarkan kami ke Johor Bahru. Meski lelah banyak berjalan kaki di Singapura, anak-anak tetap ceria, Singapura memang keren, tapi menurut mereka ada beberapa kekurangannya salah satunya, tidak ada ojek payung..LOL!

 

 

   



 

   

   

Serunya Ke Singapura Lewat Batam

   Sebagai provinsi yang terletak di pulau terluar Indonesia, Batam adalah beranda sekaligus pintu gerbang Indonesia untuk terhubung dengan negara lain, salah satunya dengan Singapura dan Malaysia, negara tetangga terdekat kita, yang berbatasan langsung dengan Batam, saya sudah beberapa kali ke Batam, tetapi hanya sekadar transit untuk melanjutkan perjalanan, dan menurut saya ke Singapura lewat Batam memang lebih mengasyikkan, meski banyak penerbangan langsung dari Jakarta, memasuki Singapura lewat Batam memiliki sensasi tersendiri.

   Termasuk perjalanan liburan imlek februari lalu, alhamdulillah saya bersama keluarga bisa pergi ke Singapura, dan lagi-lagi rute lewat Batam menjadi pilihan, karena ini perjalanan pertama untuk anak-anak ke luar negeri, kali ini kami memilih untuk menginap satu malam di Batam, maklum kami masuk rombongan keluarga b*drx yang kalau kemana-mana agak ribet bisa bikin sakit kepala, jadi mengatur suasana perjalanan menjadi senyaman mungkin benar-benar harus di pikirkan.

  Menginap di Batam sebenarnya untuk istirahat saja, karena jadwal keberangkatan pesawat kami dari Jakarta ke Batam dapat yang sore hari, kalau langsung melanjutkan perjalanan, kasihan anak-anak, pasti terasa melelahkan, lagi pula kami memang tidak berencana jalan-jalan ke Singapura, cuma mau keliling Singapura beberapa jam saja, tujuan sebenarnya ingin ke Legoland di Johor Bahru, Malaysia.

   Sesampainya di Bandara Hang Nadim kami pun di sambut taksi untuk mengantar kami ke hotel. Mendapati penumpang keluarga rempong macam kami sudah pasti banyak pertanyaan yang di ajukan pak sopir kepada kami, mulai dari tanya asal mana ? ngapain ke Batam? berapa lama di Batam? dll, lucunya percakapan yang terjadi antara kami membuat anak-anak terpesona atau lebih tepatnya sih norak, karena mendengar gaya bicara pak sopir yang ramah, kental dengan logat melayu asli, mereka tahunya gaya bicara seperti ini dari upin-ipin, dan mereka senang sekali mendengarkannya. Setelah bercerita kesana kemari sesaat sebelum kami tiba di hotel, pak sopir berujar jika kami belum sah pernah ke Batam kalau belum ke Jembatan Barelang.

© Nunu Halimi ·